Pemerintahan

Hadapi Era AI, Ratusan Guru TK di Bojonegoro Bekali Diri dengan Literasi Digital dan Koding

liputanbojonegoro637
×

Hadapi Era AI, Ratusan Guru TK di Bojonegoro Bekali Diri dengan Literasi Digital dan Koding

Sebarkan artikel ini
DB51AA9F 93CD 45BC 9954 7CF1C809446D

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Arus teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai merambah dunia pendidikan anak usia dini.

Menanggapi fenomena tersebut, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) PGRI Kabupaten Bojonegoro menggelar workshop bertema “Transformasi Pembelajaran di Era AI: Koding Anak, Game, Gambar, dan Video Edukatif” di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro, Kamis (7/5/2026).

Acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas guru PAUD dan TK di Bojonegoro. Sebanyak 278 peserta yang terdiri dari kepala sekolah dan guru TK dari 10 kecamatan hadir untuk mendalami materi yang dibawakan oleh narasumber dari IGTK PGRI Provinsi Jawa Timur.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Muhammad Zamroni, dalam sambutannya mengingatkan bahwa teknologi adalah alat yang harus dikendalikan. Ia menekankan pentingnya peran guru dalam memfilter konten negatif yang kian marak.

“Konten kekerasan maupun judi online harus bisa disaring. Guru memiliki peran penting membentengi anak didik dari dampak negatif dunia digital, termasuk potensi kekerasan seksual melalui media tersebut,” ujar Zamroni.

Beliau berharap para guru bisa menerapkan ilmu yang didapat secara berkelanjutan demi membentuk karakter anak yang cerdas namun tetap aman.

Senada dengan hal tersebut, Ketua PGRI Kabupaten Bojonegoro, Muhammad Kuzaini, memberikan apresiasi atas antusiasme para guru. Menurutnya, literasi digital bagi tenaga pendidik saat ini bersifat wajib.

“Sekarang semuanya serba digital. Jika kita tidak mengikuti perkembangan, maka kita akan tertinggal. Ini kesempatan istimewa untuk belajar bersama,” ungkap Kuzaini.

Ketua IGTK PGRI Kabupaten Bojonegoro, Anita, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang agar guru tidak lagi hanya menjadi penyampai materi searah, melainkan fasilitator yang mampu memicu inovasi.

“Teknologi, jika dimanfaatkan dengan bijak, bisa menjadi sarana stimulasi perkembangan kognitif dan sosial-emosional anak. Kami ingin guru-guru di Bojonegoro lebih adaptif dan mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan berbasis teknologi,” jelas Anita.

Kegiatan yang terbagi dalam tiga sesi ini diharapkan mampu mencetak tenaga pendidik yang siap membawa pendidikan anak usia dini di Bojonegoro ke level yang lebih modern, aman, dan kreatif di tengah gempuran era kecerdasan buatan.