Pemerintahan

Antisipasi Kemarau, 23 Embung di Pelosok Bojonegoro Rampung Dinormalisasi

liputanbojonegoro637
×

Antisipasi Kemarau, 23 Embung di Pelosok Bojonegoro Rampung Dinormalisasi

Sebarkan artikel ini
A72FD77F 2949 4402 8B1B D24918C4DF70

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Kabar gembira datang bagi para petani dan warga di wilayah pelosok Kabupaten Bojonegoro. Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Bojonegoro memastikan sebanyak 23 titik embung (waduk kecil) yang tersebar di berbagai desa kini telah berfungsi optimal setelah seluruh paket pekerjaan normalisasi dinyatakan rampung 100 persen.

Langkah strategis ini dilakukan sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam memperkuat ketahanan pangan dan mengantisipasi dampak musim kemarau. Melalui proses pengerukan sedimen, embung-embung yang sebelumnya dangkal kini memiliki kapasitas tampung yang jauh lebih besar untuk menyuplai kebutuhan irigasi sawah dan air minum ternak.

Kepala Bidang Air Baku Irigasi Dinas PU SDA Bojonegoro, Bungku Susilowati, menjelaskan bahwa sedimentasi lumpur yang tebal selama ini menjadi kendala utama cepat keringnya embung saat cuaca panas.

“Dulu embung mungkin cepat kering karena endapan sedimen lumpurnya tebal. Sekarang setelah dikeruk, kapasitasnya jauh lebih besar. Dengan selesainya pengerjaan ini, embung-embung tersebut tidak lagi sekadar menjadi kubangan dangkal,” ujarnya Rabu, (07/01/2025).

Sebagai contoh, ia menyebutkan embung di Desa Pajeng yang kini mampu menampung hingga 19.146 meter kubik air. Bahkan, volume terbesar tercatat di Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo, yang mencapai kapasitas 60.000 meter kubik.

Normalisasi ini mencakup wilayah-wilayah strategis di Bojonegoro, mulai dari Kecamatan Gondang, Kedungadem, hingga Sekar. Berikut adalah sebaran titik normalisasi berdasarkan data Dinas PU SDA:

• Kecamatan Sumberrejo: Menjadi wilayah dengan titik tampungan terbesar, khususnya di Desa Wotan (3 lokasi) dan Desa Tlogohaji.

• Kecamatan Sekar: Fokus pada pemerataan di Desa Bobol dengan 5 titik lokasi dan Desa Klino.

• Kecamatan Kedungadem: Meliputi Desa Duwel, Megale, dan dua tahap normalisasi di Desa Kedungadem.

• Wilayah Lain: Mencakup Desa Pajeng (Gondang), Desa Kanten (Trucuk), Desa Katur (Gayam), serta beberapa desa di Kanor, Kepohbaru, dan Tambakrejo.

Dengan tuntasnya normalisasi ini, para petani diharapkan dapat menjalani musim tanam dengan lebih tenang. Ketersediaan air yang lebih dekat dengan lahan pertanian tidak hanya menjamin keberlangsungan produksi pangan, tetapi juga berdampak positif pada stabilitas ekonomi desa.

“Kami berharap pemerataan ini membuat petani lebih tenang karena cadangan air tersedia lebih dekat dengan lahan mereka. Ini adalah komitmen kami untuk menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan warga pelosok,” pungkas Bungku.

Kini, 23 desa tersebut memiliki infrastruktur air yang prima dan siap menjadi tumpuan warga dalam menghadapi tantangan iklim di masa mendatang.