Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Di tengah derasnya arus modernisasi, nilai-nilai luhur masyarakat Samin atau Sedulur Sikep di Kabupaten Bojonegoro kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Bambang Sutrisno, tokoh generasi kelima keturunan Samin Surosentiko, berhasil meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori Masyarakat Adat dari Menteri Kebudayaan RI.
Bagi Bambang, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah amanah besar bagi para penerus Ajaran Samin. Ia memandang penghargaan ini sebagai bentuk nyata kehadiran dan apresiasi negara terhadap eksistensi masyarakat adat.
“Ini adalah bentuk apresiasi pemerintah kepada kami sebagai generasi penerus. Kami bangga bisa menjadi bagian dari anugerah kebudayaan Indonesia,” ujar Bambang saat ditemui di kediamannya di Dusun Jepang, Desa Margomulyo.
Bambang menjelaskan bahwa inti dari Ajaran Samin sebenarnya sangat sederhana dan universal. Terdapat empat pilar utama dalam laku hidup mereka, yakni:
1. Jujur: Bertindak dan berucap sesuai kenyataan.
2. Sabar: Menghadapi segala situasi dengan ketenangan hati.
3. Trokal: Bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh.
4. Narima: Ikhlas menerima hasil akhir serta tetap rendah hati saat dipuji maupun dikritik.
“Kalau kita sudah jujur, sabar, dan berusaha (trokal), apa pun hasilnya harus diterima dengan lapang dada (narima),” jelas putra dari Mbah Hardjo Kardi tersebut.
Menghadapi tantangan zaman, Bambang menekankan bahwa Ajaran Samin bukanlah ajaran yang kaku. Menurutnya, tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini adalah konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai dasar manusia. Ia menyebut ajaran ini tidak bertentangan dengan agama apa pun karena fokus pada etika dasar manusia (sifat dasar).
Masyarakat Samin juga memegang teguh lima tuntunan hidup, di antaranya Tidak mengambil hak orang lain, Tidak membeda-bedakan sesama manusia, Berpikir matang sebelum berbicara, dan Memiliki empati yang kuat terhadap sesama.
Pelestarian nilai Samin di Bojonegoro juga tak lepas dari dukungan pemerintah daerah. Bambang mengapresiasi kebijakan penggunaan pakaian adat bermotif Obor Sewu bagi ASN di Bojonegoro.
Motif Obor Sewu sendiri memiliki keunikan tersendiri. Sejak disepakati pada 2019, motif ini tidak diperjualbelikan secara bebas di pasar umum. Tujuannya adalah untuk menjaga nilai filosofis dan rasa bangga bagi mereka yang mengenakannya sebagai identitas masyarakat Samin.
Menutup keterangannya, Bambang menekankan filosofi “Samin” yang berarti sami-sami atau semua manusia itu setara. Ia berpesan kepada generasi muda untuk tidak ragu mengadopsi nilai Samin jika dirasa membawa kebaikan.
“Ajaran Samin tidak mengajarkan meminta. Ketika diberi dengan ikhlas, baru kami terima. Itu pesan leluhur. Tujuan akhirnya hanya satu, yakni mencari ketenteraman hidup,” pungkasnya.






