Pemerintahan

Bojonegoro, Tren Positif Sektor Pertanian Selamatkan Ekonomi dari Kontraksi Migas

liputanbojonegoro637
×

Bojonegoro, Tren Positif Sektor Pertanian Selamatkan Ekonomi dari Kontraksi Migas

Sebarkan artikel ini
E33A3C1E 24DF 47C0 BF5C 774EBB7FF80E

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menggelar diskusi bertajuk “Membaca Bojonegoro dalam Angka” di ruang kerja Wakil Bupati Bojonegoro pada Senin (8/6/2026).

Diskusi yang dihadiri oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dan jurnalis ini menyoroti pergeseran tren ekonomi daerah yang kini mulai ditopang oleh sektor nonmigas.

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada triwulan I tahun 2026 tumbuh positif sebesar 0,02 persen secara year-on-year (y-on-y).

Angka ini menunjukkan tren pemulihan yang baik jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2023 yang sempat anjlok di angka -3,49 persen.

“Meski sektor pertambangan turun (y-on-y) di angka -8,78 persen, tapi ada pertumbuhan yang sangat baik dari sektor pertanian yang naik mencapai 11,38 persen.

Ini menjelaskan bahwa meskipun ada faktor pola musiman dan penurunan lifting migas, sektor nonmigas kita terbukti mampu menjadi penyumbang PDRB yang tangguh,” ujar Nurul Azizah.

Nurul menambahkan, dalam skala regional, Kabupaten Bojonegoro menempati posisi sebagai penyumbang perekonomian terbesar ke-9 di wilayah Gerbangkertosusila Plus (G+), dengan kontribusi sebesar 3,20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Timur.

Di tempat yang sama, Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, membenarkan bahwa sektor pertanian menjadi juru selamat bagi perekonomian Bojonegoro saat ini.

Menurutnya, struktur ekonomi daerah tersebut sejauh ini memang masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian.

“Ekonomi kita 46 persen ditopang oleh pertambangan. Ketika terjadi penurunan lifting minyak seperti saat ini, pertumbuhan sektor pertambangan langsung minus 8,78 persen.

Namun, karena pertanian tumbuh tinggi mencapai 11,38 persen, itulah yang mendorong pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan tetap positif dan tidak sampai minus,” jelas Syawaluddin.

Lebih lanjut, Syawaluddin menekankan pentingnya mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif atau merata di semua sektor agar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Harusnya pertumbuhan ekonomi bergerak inklusif, artinya terbuka bagi semua orang.

Sektor pertanian inilah yang sejauh ini masih menjadi tulang punggung perekonomian riil masyarakat Bojonegoro, tidak seperti sektor pertambangan,” pungkasnya.

Sebagai” informasi, capaian PDRB Bojonegoro saat ini ditentukan oleh berbagai sektor penunjang.

Selain pertambangan dan pertanian, sektor lain yang ikut berkontribusi meliputi perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, informasi dan komunikasi, transportasi, real estate, pendidikan, kesehatan, hingga peningkatan aktivitas pariwisata.

Sementara itu, sektor pengadaan air, listrik, dan gas dinilai masih membutuhkan stimulus ekonomi lebih lanjut dari pemerintah daerah.