Pariwiata&KulinerPeristiwa

Club Vespa Bojonegoro Camping di Ketinggian 650 Mdpl Geopark Negeri Atas Angin

liputanbojonegoro637
×

Club Vespa Bojonegoro Camping di Ketinggian 650 Mdpl Geopark Negeri Atas Angin

Sebarkan artikel ini
Ee2251fa 392a 47c6 a4c3 a9e1306333ae

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Geopark Negeri Atas Angin yang terletak di Desa Deling saat ini mulai dilirik wisatawan, pasalnya baru-baru ini kawasan campground telah di jadikan destinasi oleh Kelompok Vespa pada Sabtu hingga Minggu, 2-3 Agustus 2025.

Kegiatan ini berlangsung dengan diikuti oleh puluhan anggota komunitas Vespa dari Bojonegoro. Lokasi camping dipusatkan di Campground Geopark Negeri Atas Angin, sebuah fasilitas wisata alam yang baru-baru ini dikembangkan oleh Pengelola Wisata Negeri Atas Angin dan Kelompok 20 KKNTK Universitas Bojonegoro.

Campground Negeri Atas Angin merupakan salah satu inisiatif program kerja mahasiswa KKNTK yang sedang melakukan pengabdian masyarakat di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Program ini bertujuan untuk meningkatkan potensi wisata lokal melalui pemanfaatan sumber daya alam dan keindahan lanskap pegunungan yang dimiliki kawasan tersebut.

Dengan menghadirkan fasilitas camping ground yang tertata dan dikelola dengan baik, para mahasiswa berharap Geopark Negeri Atas Angin dapat menjadi salah satu destinasi unggulan yang menarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah. Pasalnya pemandangan yang ditawarkan sangat indah dan tidak akan ditemui ditempat lain di Bojonegoro.

Kegiatan camping yang dilakukan oleh Kelompok Vespa ini menjadi contoh nyata keberhasilan kolaborasi antara masyarakat, komunitas, dan pihak akademik dalam mendukung promosi serta pengembangan pariwisata daerah. Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mengikuti berbagai aktivitas seru seperti api unggun, diskusi santai komunitas, pertunjukan musik akustik, hingga jelajah alam ringan di sekitar area geopark.

Salah satu peserta, Luky, menyampaikan rasa puas dan senangnya mengikuti camping di Campground Atas Angin. “Saya sangat menikmati suasana di sini. Fasilitasnya cukup lengkap dan bersih, pemandangannya luar biasa, dan suasananya tenang. Rasanya seperti menemukan tempat istirahat yang sempurna setelah rutinitas sehari-hari,” ujar Luky.

Ia juga mengapresiasi keberadaan mahasiswa KKNTK yang telah ikut berperan aktif dalam menata dan mengembangkan area ini. “Salut buat adik-adik mahasiswa. Mereka tidak hanya kuliah di kampus, tapi juga turun langsung ke masyarakat dan memberikan dampak nyata. Harapannya, tempat ini bisa terus dijaga dan dikembangkan agar makin banyak orang yang bisa merasakan keindahannya,” tambahnya.

Koordinator tim pengembangan wisata KKNTK Kelompok 20, Yongki, mengatakan bahwa salah satu fokus utama program pengabYongki mereka adalah menjadikan Geopark Negeri Atas Angin lebih dikenal luas dan memiliki daya tarik wisata yang kuat.

“Kami melihat potensi luar biasa dari kawasan ini, mulai dari panorama alamnya, udara yang sejuk, hingga nilai edukatif dari konsep geopark itu sendiri. Karena itu, kami berinisiatif membangun campground sebagai fasilitas pendukung agar wisatawan bisa lebih nyaman saat berkunjung,” jelas Yongki.

Menurut Yongki, respon dari masyarakat dan komunitas sangat positif. Kehadiran Kelompok Vespa yang mengadakan camping di lokasi tersebut menjadi indikator bahwa apa yang mereka rancang mulai membuahkan hasil. “Ini baru langkah awal. Kami berharap ke depan akan semakin banyak komunitas atau kelompok wisatawan yang tertarik datang dan menikmati pengalaman serupa,” imbuhnya. Selasa, (05/08/2025).

Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa pengelolaan wisata berbasis masyarakat dan partisipasi aktif berbagai elemen sangat penting untuk keberlangsungan sebuah destinasi. Campground Geopark Negeri Atas Angin bukan hanya tempat wisata alam biasa, tetapi juga simbol kolaborasi, edukasi, dan semangat kebersamaan dalam memajukan potensi lokal.

Dengan keberhasilan ini, harapannya kawasan Geopark Negeri Atas Angin dapat terus berkembang dan menjadi contoh pengelolaan wisata berkelanjutan yang berakar pada kekuatan lokal, sambil tetap terbuka terhadap inovasi dan partisipasi publik.