Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Di tengah gempuran produk modern, seorang pengusaha di Bojonegoro, Ana Nurhayati, membuktikan bahwa potensi besar bisa datang dari bahan baku yang seringkali terabaikan.
Berasal dari Desa Ngasem, Ana berhasil menyulap umbi garut—atau yang sering disebut gerut—menjadi emping gurih yang bernilai ekonomi tinggi.
Usaha yang dirintis Ana kini telah berjalan lebih dari 15 tahun dan menjadi sumber penghasilan utama. Dengan kapasitas produksi antara 20 hingga 30 kilogram umbi per hari, Ana bisa meraup omzet hingga Rp20 juta per bulan.
“Pada musim-musim tertentu, angka ini bahkan bisa melonjak hingga dua kali lipat, mencapai Rp40 juta.”
Meskipun sukses, Ana masih menghadapi tantangan utama, yaitu keterbatasan pasokan bahan baku. Tanaman garut hanya dapat dipanen setiap enam bulan sekali, sehingga ia harus mengelola persediaan dengan sangat hati-hati. Namun, kendala ini justru memunculkan inovasi lain.
Sisa bahan baku yang tidak diolah menjadi emping dimanfaatkan menjadi tepung pati garut, yang juga laku dijual dan kaya akan manfaat.
Keotentikan rasa emping garut ini menjadi daya tarik tersendiri. Dibuat secara tradisional, mulai dari proses penggeprekan hingga penjemuran di bawah sinar matahari, semua dilakukan secara manual. “Semua masih dikerjakan manual… karena itu rasanya masih sangat otentik dan alami,” ujar Ana. Kamis, (11/09/2025).
Produk Ana kini tak hanya dikenal di Bojonegoro, namun telah menembus pasar-pasar besar di luar daerah, seperti Jakarta, Semarang, bahkan hingga Nusa Tenggara Barat. Ke depan, Ana berharap dapat mengembangkan usahanya dengan bantuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menambah pasokan bahan baku agar dapat memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Kisah Ana Nurhayati menjadi inspirasi, membuktikan bahwa ketekunan dan inovasi dapat mengubah bahan lokal sederhana menjadi produk unggulan yang memiliki nilai jual tinggi.






