Peristiwa

Hangatnya Inklusi di Tengah Rintik Hujan Bojonegoro: Kisah dari Actore Mediart

liputanbojonegoro637
×

Hangatnya Inklusi di Tengah Rintik Hujan Bojonegoro: Kisah dari Actore Mediart

Sebarkan artikel ini
1fc6c3fa bfee 4333 8678 55d8ce04e27b

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Rintik hujan yang membasahi Desa Kauman, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, tak mampu memadamkan semangat kebersamaan di sebuah kedai sederhana bernama Actore Mediart.  senin, (05/10/2025). Kedai ini, bersama halaman yang dijuluki Taman Inklusi, telah tumbuh menjadi model nyata pembelajaran dan ruang kesetaraan bagi teman tuli dan teman dengar di Bojonegoro.

Saat bangku-bangku di Taman Inklusi mulai basah, sekelompok anak dan remaja bergegas mencari atap di kedai. Di dalam ruangan sederhana yang bahkan atapnya bocor, suasana justru menghangat. Bukan karena suhu, melainkan oleh interaksi tulus yang mereka bangun—sebuah jembatan komunikasi antara dua dunia.

Actore Mediart, yang diinisiasi oleh seniman pantomim Takim Kok Gito-Gito, memang difungsikan sebagai ruang kreasi. Di sana, teman dengar berupaya keras memahami bahasa isyarat, sementara teman tuli belajar mengekspresikan diri. Sesekali, kesalahpahaman muncul. Namun, momen-momen inilah yang justru memicu tawa renyah dan mempererat ikatan. Mereka menyebutnya “bahasa salah paham,” sebuah bahasa yang tanpa disadari telah menghapus sekat.

Gita, salah satu teman tuli yang kini menjadi mentor bagi teman dengar, mengakui bahwa awalnya ia merasa canggung dan tidak percaya diri. Namun, kehadiran forum di Taman Inklusi telah mengubahnya.

“Dengan adanya forum ini, saya merasa punya jembatan untuk belajar bersosialisasi di tengah masyarakat. Sekarang saya percaya tidak ada kata terlambat untuk belajar,” ujar Gita dengan senyum penuh keyakinan, menunjukkan bagaimana ruang inklusif ini telah menumbuhkan kembali rasa percaya dirinya.

Taman Inklusi Kauman menawarkan lebih dari sekadar tempat bernaung. Tempat ini mewujudkan konsep inklusi yang holistik dengan menyediakan ruang belajar, ruang apresiasi, ruang ekonomi, ruang pengembangan, dan yang terpenting, ruang untuk berbagi perasaan.

Di sinilah proses nyata kesetaraan disuarakan: Teman tuli ditempatkan sebagai subjek sebuah gagasan, bukan hanya objek yang dikasihani. Mereka berproses untuk berkarya dan bersosialisasi, asalkan masyarakat mau memberi kesempatan dan ruang tanpa diskriminasi.

Keberlangsungan Taman Inklusi dan Actore Mediart menjadi saksi bahwa inklusi sejati tidak memerlukan konsep yang rumit. Ia bekerja dalam kesederhanaan, tawa, dan keberanian untuk saling memahami—sebuah harapan agar ruang ini terus hidup, tumbuh, dan mendapat fasilitasi sederhana yang membuatnya semakin nyaman bagi siapa saja yang ingin belajar bersama.