Infotaiment

Jaga Kemurnian Sapi PO, Bojonegoro Perketat SKLB

liputanbojonegoro637
×

Jaga Kemurnian Sapi PO, Bojonegoro Perketat SKLB

Sebarkan artikel ini
1D36947E 88FD 426D B287 6D06B5CB2180

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat posisinya sebagai barometer pemurnian genetik ternak di Indonesia.

Melalui penetapan Kecamatan Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit sapi Peranakan Ongole (PO), pemerintah daerah berkomitmen memastikan keberlanjutan ternak lokal berkualitas tinggi yang memenuhi standar SNI dan bersertifikat Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB).

Penetapan ini merupakan mandat resmi negara melalui Keputusan Menteri Pertanian (Mentan) No. 356/Kpts/PK.040/6/2015. Hal ini menegaskan bahwa sapi PO Bojonegoro memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki daerah lain, terutama dalam hal daya tahan iklim dan produktivitas.

Sapi PO asal Tambakrejo dikenal memiliki lima keunggulan utama yang membuatnya menjadi primadona di pasar ternak:

• Reproduksi Stabil: Tingkat kesuburan tinggi untuk percepatan populasi.

• Adaptabilitas Tropis: Tahan terhadap cuaca panas ekstrem.

• Imunitas Kuat: Daya tahan alami terhadap parasit dan penyakit khas ternak.

• Kualitas Daging: Persentase karkas tinggi dengan kualitas serat daging yang baik.

• Efisiensi Pakan: Tetap produktif meski menggunakan jenis pakan lokal sederhana.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menjaga kemurnian genetik sekaligus mendongkrak nilai ekonomi peternak.

“Kami tidak hanya bicara soal kuantitas, tapi kualitas genetik yang teruji. Dengan status Tambakrejo sebagai wilayah sumber bibit, kami memastikan setiap sapi PO yang keluar telah melalui seleksi ketat berstandar SNI dan mengantongi SKLB,” ujar Elfia.

Guna menjaga kualitas tersebut, Disnakkan menjalankan berbagai program strategis, di antaranya:

1. Layanan Inseminasi Buatan (IB) dan penanganan gangguan reproduksi (Gangrep).

2. Jaminan Kesehatan: Pemberian vaksin dan obat-obatan hewan secara rutin.

3. Penguatan Komunitas: Pengembangan Kelompok Tani Ternak dan Asosiasi Peternak Sapi PO Bojonegoro (Kepo Bojo).

Menurut Elfia, langkah ini juga merupakan upaya serius dalam mempertahankan plasma nutfah Indonesia. Dengan bibit yang diakui secara nasional, peternak di Bojonegoro diharapkan mendapatkan nilai tawar dan harga jual yang lebih tinggi.

“Inovasi ini membawa tiga manfaat sekaligus: melestarikan sumber daya genetik, menyediakan bibit berkualitas secara berkesinambungan, serta mendukung ketahanan pangan menuju swasembada daging nasional,” tutupnya.

Melalui kolaborasi erat dengan kelompok tani, Kabupaten Bojonegoro optimis dapat menjaga ekosistem peternakan yang berkelanjutan dan kompetitif di kancah nasional.