Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Kondisi Jalan Nasional yang menghubungkan Bojonegoro dan Babat kian memprihatinkan. Kerusakan infrastruktur di jalur utama ini telah mencapai titik yang membahayakan nyawa, memicu gelombang protes dari masyarakat, hingga munculnya wacana aksi massa ke rumah wakil rakyat.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu (25/1/2026), kerusakan paling parah terlihat mulai dari Desa Ngemplak hingga kawasan Pasar Baureno. Titik terburuk berada di Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, di mana lubang-lubang dalam dan gundukan aspal yang tidak rata menghiasi badan jalan.
Buruknya kondisi jalan dilaporkan telah memicu banyak kecelakaan lalu lintas dalam beberapa pekan terakhir. Selain aspal yang mengelupas, sisa-sisa kerikil tajam di permukaan jalan sering membuat pengendara motor terpeleset.
Kabar mengenai adanya korban jiwa akibat kerusakan jalan ini pun mulai mencuat dan menjadi perbincangan hangat di kalangan warga. Kondisi ini diperparah saat memasuki malam hari atau saat hujan turun, di mana lubang-lubang jalan tertutup genangan air dan minim penerangan.
Kekecewaan warga memuncak di jagat maya. Di grup Facebook “Kabar Baureno”, warganet ramai membagikan poster protes bertuliskan “Hati-hati Jalan Baureno Rusak, Butuh Perhatian dari Pemerintah”. Tak hanya sekadar tulisan, warga kini mulai menyerukan aksi nyata dengan mendatangi rumah anggota DPRD di wilayah Baureno untuk menuntut pertanggungjawaban.
Arifin, seorang warga Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, yang rutin melintasi jalur tersebut, mengungkapkan kegelisahannya.
“Waduh, jalan ini parah sekali. Dari Telon Were ke barat sampai Sraturejo banyak lubang dan gundukan. Berkendara harus benar-benar waspada. Kami sangat kecewa karena perbaikan selama ini terkesan hanya asal-asalan,” tegas Arifin kepada awak media.
Warga menilai upaya perbaikan yang dilakukan selama ini hanya bersifat tambal sulam dengan kualitas rendah. Akibatnya, dalam hitungan hari, tambalan tersebut kembali mengelupas dan justru menciptakan gundukan baru yang membahayakan.
Masyarakat mendesak agar Pemerintah Pusat melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera turun tangan secara serius. Warga menagih janji terkait layanan pengaduan jalan 24 jam dan meminta perbaikan dilakukan secara menyeluruh (permanen), bukan sekadar formalitas.
“Kami ini bayar pajak. Jangan sampai menunggu lebih banyak korban lagi baru ada tindakan serius. Kalau nambal aspal, ojo asal nambal (jangan asal tambal), perhatikan kualitasnya,” pungkas Arifin.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu respon cepat dari dinas terkait untuk melakukan perbaikan darurat guna mencegah jatuhnya korban tambahan di jalur maut tersebut.






