Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Di tangan Lestari Sahsa Malika, Bahasa Jawa bukan sekadar mata pelajaran, melainkan sebuah jalan pengabdian. Perempuan yang akrab disapa Denok Ayu Lestari ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat seni tradisi dan budi pekerti di kalangan generasi muda Kabupaten Bojonegoro.
Berperan ganda sebagai guru Bahasa Jawa di SMPN 1 Balen dan pendidik di KB Tunas Harapan Ngadiluhur, Lestari membawa misi besar: menanamkan kembali kecintaan pada budaya leluhur yang mulai tergerus zaman.
Tak cukup hanya mengajar di sekolah formal, Lestari mendirikan Sanggar SUMILAK. Di ruang sederhana ini, ia membina anak-anak desa dalam berbagai disiplin seni, mulai dari macapat, geguritan, tembang dolanan, hingga drama berbahasa Jawa. Sanggar ini juga dilengkapi dengan perpustakaan mini untuk meningkatkan literasi anak-anak sekitar.
“Setiap materi saya selipkan nilai keindahan seni Jawa. Namun yang paling krusial adalah unggah-ungguh (tata krama), terutama pembiasaan basa krama sesuai usia mereka,” ujar Lestari.
Perjalanan Lestari tidak selalu mulus. Ia kerap menemui siswa yang asing dengan budayanya sendiri, bahkan sempat menertawakan saat ia melantunkan tembang. Namun, alih-alih menegur dengan keras, ia memilih jalur edukasi filosofis.
Ia mencontohkan “Kidung Rumeksa Ing Wengi” karya Sunan Kalijaga sebagai media dakwah dan spiritual. Melalui pendekatan yang lembut, ia menyadarkan para siswa bahwa setiap tembang tradisional adalah rangkaian siklus hidup manusia dari lahir hingga tiada.
Ketulusan Lestari dalam membimbing membuahkan hasil manis pada akhir tahun ini. Sejumlah prestasi berhasil diraih oleh anak didiknya:
• 26 Oktober 2025: Juara 3 Lomba Geguritan tingkat kabupaten yang diadakan oleh Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI).
• 30 Oktober 2025: Juara 2 dan 3 Lomba Bertutur Dialog Bojonegaran yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Bojonegoro.
Lestari sendiri membuktikan kompetensinya dengan meraih Juara 2 Lomba Sambutan Basa Jawa di tingkat Cabdin Wilayah Bojonegoro.
Bagi Lestari, piala hanyalah bonus. Visi utamanya adalah mencetak generasi yang memiliki adab dan tidak malu mengakui identitas sebagai orang Jawa. Ia berpesan kepada sesama pendidik agar tidak lelah menjadi pelita bagi karakter anak didik.
“Saya ingin mereka memiliki kesadaran untuk melestarikan budaya leluhur yang adi luhung dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah,” pungkasnya.
Dari sebuah desa kecil di Balen, Denok Ayu Lestari terus membuktikan bahwa mencintai budaya adalah cara terbaik untuk menjaga jati diri bangsa di masa depan.







