Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Malam pergantian tahun di Kabupaten Bojonegoro berlangsung meriah dan sarat akan nilai budaya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro menggelar serangkaian pertunjukan seni tradisional di berbagai titik untuk menemani warga menyambut datangnya tahun 2026, Rabu (31/12/2025).
Berbeda dengan perayaan modern, Disbudpar memilih mengedepankan kearifan lokal seperti Sandur, Wayang Thengul, dan Campursari sebagai sarana edukasi sekaligus hiburan rakyat.
Pusat kemeriahan di wilayah barat bertempat di halaman SDN 1 Ngradin, Kecamatan Padangan. Acara dibuka dengan penampilan Campursari AK NADA. Grup yang dipimpin oleh Antok Kliwir ini membawa 15 personel untuk melantunkan langgam-langgam Jawa.
“Melalui musik campursari, kami ingin menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap musik Jawa. Ini adalah warisan yang harus dijaga,” ujar Antok.
Suasana semakin hangat saat pelajar se-Kecamatan Padangan membawakan Tari Kembang Kahyangan, tarian khas kebanggaan Bojonegoro. Sebagai puncak acara, grup Sayap Jendela menyuguhkan pertunjukan Sandur yang penuh pesan moral hingga tengah malam.
Sementara itu, di Kecamatan Kanor, ribuan warga memadati halaman kantor kecamatan hingga meluber ke jalanan untuk menyaksikan Wayang Thengul. Pertunjukan spesial ini dibawakan oleh dalang senior Hadi Sabdocarito (65) dari Desa Sobontoro.
Lakon yang dibawakan malam itu mengangkat sejarah perjuangan lokal, yakni kisah Adipati Sosrodilogo. Beliau adalah pahlawan era Diponegoro yang memimpin rakyat Bojonegoro melawan penjajah. Penampilan ini menjadi pengingat bagi masyarakat akan semangat patriotisme di awal tahun yang baru.
Kemeriahan juga pecah di Lapangan Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, melalui penampilan Campursari Moro Seneng. Antusiasme warga yang luar biasa membawa berkah bagi para pedagang UMKM di sekitar lokasi yang melaporkan peningkatan omzet penjualan secara signifikan.
Siti Munawaroh (55), warga setempat, mengaku senang dengan konsep perayaan ini. “Saya sengaja datang untuk melihat campursari. Harapannya acara seperti ini lebih sering diadakan karena sangat menghibur rakyat kecil,” tuturnya.
Menanggapi suksesnya rangkaian acara ini, Masirin (perwakilan pihak terkait) menegaskan bahwa perayaan tahun baru tidak harus selalu identik dengan kemewahan atau kembang api.
“Dengan kegiatan budaya, suasana tetap meriah dan aman. Yang terpenting, ada nilai edukasi yang disampaikan kepada masyarakat luas,” tutupnya.







