Pemerintahan

Mahasiswi Gizi Bojonegoro Sulap Bekatul Jadi Camilan Bergizi

liputanbojonegoro637
×

Mahasiswi Gizi Bojonegoro Sulap Bekatul Jadi Camilan Bergizi

Sebarkan artikel ini
DEE07C70 B983 4E79 8CBC 91D987360735

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro menunjukkan sinergi kuat antara kreativitas generasi muda dan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan serta kesejahteraan sosial. Dua kabar utama menghiasi awal tahun 2026: lahirnya inovasi kuliner sehat berbasis limbah pangan dan target ambisius penurunan angka kemiskinan menjadi 10,55%.

Inovasi olahan pangan lokal kembali lahir dari tangan dingin Sherly Rahayu Retnoningtyas, mahasiswi S1 Gizi Stikes Muhammadiyah Bojonegoro. Sherly berhasil menciptakan “Bekatul Crepe Roll Cake”, sebuah produk yang memanfaatkan hasil samping penggilingan padi yang selama ini identik dengan pakan ternak.

Berkat kreativitasnya, Sherly meraih Juara 2 dalam Lomba Inovasi Olahan Sisa Pangan yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro.

“Inovasi ini berangkat dari kepedulian terhadap pemanfaatan bekatul. Secara kajian gizi, bekatul tinggi protein, serat, dan antioksidan,” ujar Sherly.

Proses Pengolahan:

• Sterilisasi: Dikukus pada suhu 100°C selama 30 menit.

• Pengeringan: Disangrai pada suhu 70-90°C sebelum diolah menjadi tepung.

• Sentuhan Modern: Tepung bekatul dipadukan dengan susu dan telur, lalu digulung bersama whipcream dan stroberi segar untuk menciptakan rasa manis-gurih yang modern.

Sherly berharap produknya tidak hanya menjadi pemenang lomba, tetapi juga mampu menembus pasar camilan sehat dan meningkatkan nilai ekonomi bahan pangan lokal.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menetapkan target besar dalam pengentasan kemiskinan. Pemkab optimistis dapat menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,94% pada tahun 2026, yang berarti menargetkan 11.854 jiwa atau 4.310 Kepala Keluarga (KK) terlepas dari jerat kemiskinan.

Kepala Dinas Sosial Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, mengungkapkan bahwa jika pada 2025 angka kemiskinan berada di level 11,49%, maka pada akhir 2026 angka tersebut ditargetkan turun menjadi 10,55%.

Langkah Konkret Pemerintah:

1. Akurasi Data: Memperkuat Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang memadukan DTKS, P3KE, dan Regsosek.

2. Operasi Lapangan: Mengerahkan 2.580 Petugas Pencacah Data di 430 desa/kelurahan untuk melakukan pemutakhiran data secara riil sejak 14 Januari hingga 16 Februari 2026.

3. Kolaborasi Lintas Sektor: Mengintegrasikan program bansos dengan pemberdayaan masyarakat di seluruh dinas dan badan terkait.

“Data yang dikumpulkan akan diolah dengan metode statistik untuk menjadi dasar kebijakan pengentasan kemiskinan yang terukur dan berkelanjutan,” tegas Agus pada Jumat (30/1/2026).

Munculnya inovasi seperti Bekatul Crepe Roll Cake milik Sherly menjadi potret nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat dan inovasi pangan dapat menjadi pilar pendukung ekonomi daerah. Dengan dukungan kebijakan berbasis data yang akurat, Bojonegoro optimistis menyongsong tahun 2026 dengan kemandirian pangan dan kesejahteraan sosial yang lebih baik.