Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) kembali memperkuat sektor ekonomi kerakyatan melalui penyaluran bantuan bibit buah-buahan. Tahun ini, program difokuskan pada bibit Alpukat dan Jambu Mete yang menyasar Kelompok Tani (Poktan) di sekitar kawasan hutan.
Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, S.Pi, MP., menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan upaya strategis untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa hutan.
Program ini mengusung konsep agroforestry, yakni perpaduan tanaman kehutanan dengan tanaman produktif secara harmonis. Selain mengejar nilai tambah ekonomi bagi petani, langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan lingkungan.
“Kami ingin menciptakan kawasan hutan yang produktif sekaligus lestari. Melalui pola tanam ini, tutupan vegetasi akan meningkat dan fungsi konservasi tanah serta air tetap terjaga,” ujar Zaenal Fanani.
Berbeda dengan beberapa program bantuan lahan lainnya, DKPP tidak menetapkan batas minimal luas lahan dalam program ini. Selama lokasi secara teknis layak untuk ditanami, kelompok tani dapat mengajukan permohonan.
Adapun syarat administrasi yang harus disiapkan oleh Kelompok Tani meliputi:
• SKT (Surat Keterangan Terdaftar) yang ditandatangani Bupati.
• Identitas (KTP) pengurus inti (Ketua, Sekretaris, Bendahara).
• Foto titik koordinat lokasi calon penanaman untuk verifikasi lapangan.
• Proposal permohonan yang telah disetujui oleh Kepala Desa dan Penyuluh Pertanian setempat.
Pemerintah memastikan bahwa petani tidak akan dibiarkan berjalan sendiri. Setiap kelompok yang lolos verifikasi CPCL (Calon Petani Calon Lokasi) akan mendapatkan pendampingan intensif dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
“Petani akan dibekali teknik budidaya, mulai dari cara menanam yang benar hingga penanganan pasca-panen. Kami ingin memastikan tingkat keberhasilan tumbuh bibit ini maksimal,” tambahnya.
Mengenai volume bantuan, estimasi alokasi berkisar antara 300 hingga 400 batang per hektar, tergantung pada hasil verifikasi tim teknis di lapangan. Distribusi bibit nantinya akan disesuaikan dengan kesiapan lahan dan momentum masa tanam ideal agar bibit dapat tumbuh optimal secara berkelanjutan.






