Pemerintahan

Pemkab Bojonegoro Targetkan Proyek Jalan Lingkar Selatan (JLS) Mulai Konstruksi Tahun 2027

liputanbojonegoro637
×

Pemkab Bojonegoro Targetkan Proyek Jalan Lingkar Selatan (JLS) Mulai Konstruksi Tahun 2027

Sebarkan artikel ini
A035D6FA 1C06 4C3B A699 BAA57511E76B

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro serius mematangkan rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) atau ring road.

Proyek strategis ini ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada tahun 2027 sebagai solusi permanen untuk mengurai kemacetan di jantung kota serta mendorong pemerataan ekonomi wilayah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro, Edi Susanto, menyampaikan bahwa JLS telah ditetapkan sebagai program prioritas dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2027.

Hal tersebut dipaparkan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten di Gedung Pemkab Bojonegoro, Jumat (27/3/2026).

Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Bojonegoro dilaporkan telah merampungkan dua dokumen krusial, yakni Feasibility Study (studi kelayakan) dan Design Development (desain pengembangan).

“Desain pengembangan ini penting untuk mendapatkan gambar detail, spesifikasi material, dan estimasi konstruksi yang lebih akurat. Kami menargetkan di tahun 2027 sudah ada kegiatan fisik,” ujar Edi Susanto di hadapan peserta Musrenbang.

Meskipun sebelumnya sempat masuk dalam RPJMD 2018-2023 namun belum terealisasi, proyek ini kini dikukuhkan kembali dalam RPJMD Bojonegoro 2025-2029 untuk memastikan keberlanjutannya.

JLS direncanakan membentang sepanjang 37 kilometer, menghubungkan sisi barat di Desa Ngujo (Kecamatan Kalitidu) hingga sisi timur di Proliman (Kecamatan Kapas). Jalur ini akan melintasi beberapa wilayah strategis, antara lain:

• Kecamatan Kalitidu: Desa Ngujo.

• Kecamatan Dander: Desa Ngumpakdalem.

• Kecamatan Kapas: Desa Bangilan, Tapelan, Tanjungharjo, dan Kedaton (Proliman).

Secara teknis, jalan ini dirancang memiliki dua jalur dengan lebar masing-masing 8 meter, lengkap dengan trotoar di sisi kanan dan kiri. Guna menjamin kelancaran arus logistik, Pemkab juga berencana membangun jalan layang (flyover) di atas rel kereta api di titik Ngujo dan Proliman.

Urgensi pembangunan JLS didasarkan pada kajian Dinas Perhubungan yang menunjukkan rasio arus lalu lintas di sejumlah jalan protokol kota (seperti Jl. Ahmad Yani dan Jl. Gadjah Mada) sudah mencapai angka kritis di atas 0,9. Hal ini mengakibatkan kecepatan kendaraan menurun drastis hingga rata-rata hanya 20 km/jam.

Kondisi ini diperparah oleh kendaraan besar dari arah Surabaya maupun Ngawi yang saat ini masih harus melintasi pusat kota.

Dengan adanya JLS, arus kendaraan berat akan dialihkan sepenuhnya ke jalur lingkar, sehingga beban jalan perkotaan berkurang dan mobilitas warga menjadi lebih efisien.