Pemerintahan

HUT ke-13 PDKB: Bojonegoro Menuju Kota Ramah Disabilitas

liputanbojonegoro637
×

HUT ke-13 PDKB: Bojonegoro Menuju Kota Ramah Disabilitas

Sebarkan artikel ini
A676904D C793 467C A9C0 7A5E677F8D8E

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Bojonegoro (PDKB) merayakan hari jadinya yang ke-13 dengan penuh khidmat di Desa Lengkong, Kecamatan Balen, Minggu (5/04/2026).

Perayaan ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi simbol komitmen besar untuk menghapus sekat pemisah antara penyandang disabilitas dengan masyarakat umum.

Peringatan HUT PDKB kali ini berlangsung meriah dengan berbagai agenda yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi:

• Santunan Sosial: Penyerahan bantuan sosial (bansos) bagi anak yatim dan penyandang disabilitas.

• Layanan Kesehatan: Pelaksanaan cek kesehatan gratis bagi pengunjung.

• Pemberdayaan Ekonomi: Pameran produk UMKM lokal dan penyelenggaraan operasi pasar murah.

Ketua PDKB Bojonegoro, Sanawi, dalam sambutannya tak kuasa menahan haru melihat perkembangan kesadaran masyarakat.

Ia menceritakan sejarah panjang PDKB yang berawal dari perjuangan kolektif di Kediri hingga akhirnya mampu berdiri mandiri sebagai wadah pendampingan di Bojonegoro.

“Harapan kami hanya satu: Bojonegoro menjadi kota yang tidak ada perbedaan antara disabilitas dengan masyarakat normal. Kita sudah memiliki Perda Disabilitas dan payung hukum sehingga tidak ada lagi diskriminasi,” tegas Sanawi.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Kepala Dinas Sosial, Agus Susetyo Hardiyanto, menyatakan dukungannya terhadap visi inklusivitas tersebut.

Mewakili Bupati, Agus menegaskan bahwa tahun 2026 merupakan momentum penguatan program bagi masyarakat rentan, termasuk penyandang disabilitas berat dan kronis.

Pemerintah saat ini tengah fokus pada dua pilar utama:

1. Validasi Data: Perbaikan data tunggal sosial ekonomi untuk memastikan bantuan sosial tepat sasaran.

2. Kemandirian Ekonomi: Program pelatihan keterampilan seperti menjahit dan tata rias, serta distribusi alat bantu bagi yang membutuhkan.

“Kami menyasar semua masyarakat rentan. Bagi kelompok non-produktif seperti lansia atau yang sakit kronis, jaminan sosial tetap menjadi prioritas kami,” ujar Agus.

Acara yang bertepatan dengan momen Halal Bihalal bulan Syawal ini ditutup dengan penekanan pada pentingnya komunikasi antara komunitas dan pemerintah. Agus berharap dialog rutin terus terjalin agar kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan di lapangan.

“Semakin sering kita bertemu, semakin kuat ikatan batinnya. Kami terbuka untuk berdiskusi kapan saja demi mewujudkan Bojonegoro yang benar-benar inklusif,” pungkasnya.