Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Lentera Sebaya menggelar workshop kesehatan mental bagi Orang Dengan HIV (ODHIV) se-Jawa Timur di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat resiliensi pasien dalam menghadapi tantangan psikososial dan stigma masyarakat.
Dengan tema “Dari Rentan Menjadi Bertahan, Menjaga Kesehatan Mental Aman dan Berani Menghadapi Masa Depan”, acara ini dihadiri oleh berbagai pihak lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Kominfo, PMI, hingga perwakilan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo dan RSUD Padangan.
Sub Koordinator Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, Paiman, menyampaikan bahwa penguatan mental adalah fondasi utama bagi ODHIV untuk tetap patuh menjalani pengobatan. Menurutnya, kepatuhan minum obat sangat krusial untuk menekan jumlah virus dalam tubuh.
“Di Indonesia ada target eliminasi HIV/AIDS ‘Three Zero’ pada 2030, yaitu nol kasus baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma atau diskriminasi,” jelas Paiman.
Ia menambahkan bahwa untuk mencapai target tersebut, edukasi harus dimulai dari lingkungan terkecil. “Stigma yang baik harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga agar kualitas hidup teman-teman ODHIV semakin meningkat.”
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, tercatat ada 358 kasus HIV/AIDS sepanjang tahun 2025. Sementara itu, hingga April 2026, telah ditemukan 31 kasus baru.
Paiman memastikan bahwa akses pengobatan di Bojonegoro sudah sangat terbuka. Saat ini, seluruh puskesmas dan 11 rumah sakit di wilayah Kabupaten Bojonegoro telah tersedia untuk melayani pengobatan ODHIV sesuai standar medis.
Workshop menghadirkan Niken Mahendra, seorang konselor profesional di bidang kesehatan mental. Dalam suasana yang akrab, Niken membawakan materi bertajuk “Bagi Bebanmu Kawan”.
Rangkaian sesi dimulai dari refleksi diri dalam tema ‘Who Am I’, dilanjutkan dengan diskusi ‘Yang Rentan Yang Bertahan’, dan ditutup dengan motivasi ‘Sehat Mental Untuk Masa Depan’. Melalui materi ini, para peserta diajak untuk berani menghadapi masa depan tanpa rasa takut terhadap status kesehatan mereka.
Dinkes Bojonegoro berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah (NGO) seperti KDS Lentera ini dapat terus berlanjut.
Harapannya, ODHIV yang telah berdaya secara mental dapat turut serta menjadi agen edukasi bagi sesama yang belum mengakses layanan kesehatan.






