Liputanbojonegoro.com, Sidoarjo – Kesibukan sebagai ibu rumah tangga tidak menghalangi kreativitas emak-emak Muslimat di Perumahan Magersari Permai, Kabupaten Sidoarjo.
Melalui grup Al Aminah Rebana, belasan ibu-ibu ini sukses menyalurkan hobi sekaligus menyebarkan syiar Islam lewat musik tradisional yang rancak.
Grup yang resmi terbentuk pada 4 November 2023 ini awalnya berawal dari obrolan santai (getok tular) antar-tetangga.
Kini, Al Aminah Rebana yang berpusat di Perumahan Magersari Permai Blok BD-3 semakin eksis mengisi berbagai acara keagamaan dan hajatan warga. Terbaru, mereka sukses memukau warga saat tampil di acara syukuran di lingkungan RW 01 pada Kamis (21/5/2026) malam.
Ketua Al Aminah Rebana, Bu Hesty Fahla, mengaku bersyukur bisa menyatukan visi dan semangat para ibu rumah tangga di lingkungannya. Saat ini, grup tersebut telah diperkuat oleh 16 personel yang berasal dari berbagai rukun tetangga (RT) di wilayah RW 07.
“Memang belum semua ibu-ibu dari masing-masing RT bergabung. Setidaknya, dari RT 23, 24, 30, 31, 32, 33, 39, 40, dan 43 sekarang sudah ajeg (rutin) berlatih. Alhamdulillah juga didukung Bu Susi dan Bu Witya yang aktif membersamai di Al Aminah Rebana,” ujar Hesty usai tampil, Kamis malam.
Meskipun di kawasan Magersari sudah eksis grup qasidah modern dan hadrah Al Banjari, Al Aminah Rebana memiliki keunikan tersendiri.
Grup ini tetap setia mempertahankan alat musik tradisional, seperti rebana keprak, kencer, kompang (terbang), dan membranofon.
Kombinasi instrumen tersebut menghasilkan ketukan yang lebih dinamis dan rancak. Salah satu lagu yang kerap dibawakan dan menjadi andalan saat ini adalah lagu religi yang sedang viral, “Siti Fatimah”.
Terkait jadwal manggung, Hesty menjelaskan bahwa saat ini Al Aminah Rebana masih berfokus memenuhi undangan dari kerabat, tetangga yang menggelar hajatan, serta pengajian di sekitar wilayah Magersari.
Menatap masa depan, Hesty menegaskan bahwa fokus utama grupnya adalah menjaga konsistensi. Kendati demikian, ia berharap ke depan Al Aminah Rebana bisa mendapatkan pembinaan yang lebih profesional, termasuk kehadiran pelatih, manajemen yang rapi, serta perhatian dari tokoh masyarakat setempat.
“Yang penting, bisa latihan rutin. Untuk mengasah kemampuan, kami berharap diberikan lebih banyak kesempatan tampil di acara publik.
Dengan begitu, kreativitas emak-emak bisa tetap tersalurkan, sekaligus memberikan hiburan dan syiar kepada masyarakat,” pungkas Hesty.






