Pemerintahan

Dinsos Bojonegoro Gelar Edukasi Rupiah Inklusif bagi Anggota Pertuni

liputanbojonegoro637
×

Dinsos Bojonegoro Gelar Edukasi Rupiah Inklusif bagi Anggota Pertuni

Sebarkan artikel ini
11A365EE BFC3 4126 AF8E CA0F78F026E8

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bojonegoro bersinergi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur menggelar Sosialisasi Edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah di Aula SLB Negeri Sumbang, Bojonegoro, Selasa (26/5/2026).

Acara yang berlangsung gayeng, hangat, dan interaktif ini menyasar puluhan anggota Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Bojonegoro sebagai peserta utama.

Hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (Kabid Rehabsos), Nafiatin Ni’mah. Dalam sambutannya, Nafiatin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya edukasi yang inklusif ini.

Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengawal kesetaraan hak informasi dan kemandirian bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.

“Memahami Rupiah adalah hak sekaligus kewajiban seluruh warga negara.

Kami sangat mendukung program ini agar rekan-rekan kita memiliki akses informasi yang setara untuk mengenali dan menjaga uang Rupiah, sehingga terhindar dari risiko kejahatan keuangan seperti peredaran uang palsu,” ujar Nafiatin Ni’mah, yang sempat mencairkan suasana aula dengan selingan humor segar.

Dalam sesi pemaparan, perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur mengupas tuntas tiga esensi utama dari gerakan CBP Rupiah. Pada aspek Cinta Rupiah, para peserta diajak untuk mengenali keaslian uang melalui kode khusus (blind code) berupa garis timbul (tactile bando) yang terletak di setiap tepi uang kertas.

Demi menjaga kualitas kode rabaan tersebut, BI menekankan pentingnya gerakan “5 Jangan”, yaitu Jangan Dilipat Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distapler, dan Jangan Dibasahi

“Uang yang lecek atau rusak akan mengikis tekstur kode rabaan, sehingga menyulitkan rekan-rekan dengan hambatan penglihatan untuk mengenali nominalnya,” tulis perwakilan BI dalam edukasinya.

Sementara pada aspek Bangga dan Paham, peserta diajak menjaga kedaulatan negara lewat mata uang serta bijak dalam membelanjakannya.

Suasana aula semakin semarak saat memasuki sesi game edukatif. Panitia menantang perwakilan anggota Pertuni untuk adu cepat menyusun lembaran uang Rupiah acak, mulai dari pecahan terbesar hingga terkecil, hanya dengan mengandalkan indra peraba.

Peserta yang berhasil menyusun dengan cepat dan akurat langsung mendapat apresiasi berupa hadiah menarik.

Tidak hanya berfokus pada literasi keuangan, momentum ini juga dimanfaatkan untuk memberikan edukasi penting mengenai perkembangan bahasa yang inklusif dan ramah disabilitas.

Kepala SLB Negeri Sumbang, Muslihati, menjelaskan adanya evolusi penggunaan istilah bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Jika dahulu masyarakat akrab dengan sebutan ‘cacat’, istilah tersebut kemudian berkembang menjadi ‘tunanetra’, dan diserap menjadi ‘disabilitas’.

“Namun, untuk penggunaan kalimat yang paling tepat, santun, dan dianjurkan saat ini adalah menggunakan kata ‘Hambatan’, seperti Hambatan Penglihatan, Hambatan Pendengaran, dan hambatan lainnya,” pungkas Muslihati di akhir acara.