BudayaPeristiwa

Masyarakat Samin Bojonegoro Gelar Tradisi Gumbregan

liputanbojonegoro637
×

Masyarakat Samin Bojonegoro Gelar Tradisi Gumbregan

Sebarkan artikel ini
77516A61 B6D2 4F81 B3A0 38DB5B3C5510

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Masyarakat Sedulur Sikep (Samin) di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, kembali menggelar tradisi tahunan Gumbregan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Jumat (19/6/2026).

Ritual adat ini digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, kesejahteraan, serta manfaat hewan ternak yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.

Bagi masyarakat Sedulur Sikep, Gumbregan bukan sekadar ritual musiman. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini mengandung nilai penghormatan yang mendalam terhadap hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing yang telah setia membantu aktivitas pertanian dan menopang kehidupan sehari-hari.

Penerus ajaran Samin Surosentiko, Bambang Sutrisno, menjelaskan bahwa tradisi Gumbregan merupakan bentuk ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta sekaligus penghargaan kepada hewan peliharaan.

“Gumbregan adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena hewan ternak telah membantu pekerjaan sehari-hari. Melalui tradisi ini, kami juga mengajarkan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup yang turut menopang kehidupan manusia,” ujar Bambang.

Ia menambahkan, pelaksanaan Gumbregan tahun ini terasa lebih spesial karena menjadi bagian dari langkah nyata penguatan usulan tradisi tersebut agar diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari, di mana warga bergotong royong menyiapkan berbagai hidangan tradisional, dengan menu utama berupa ketupat dan jadah ketan.

Setelah seluruh persiapan rampung, masyarakat berkumpul untuk mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh adat, Mbah Salam.

Menariknya, setelah prosesi doa selesai, ketupat dan aneka hidangan yang telah didoakan tidak hanya disantap bersama oleh keluarga sebagai simbol kebersamaan. Sebagian makanan tersebut juga diberikan dan disuapkan langsung kepada hewan-hewan ternak mereka.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan atas jasa hewan-hewan tersebut dalam membantu mengolah lahan pertanian warga.

Kelestarian adat budaya di Dusun Jepang ini juga menarik perhatian dari berbagai pihak luar daerah. Agenda tahunan ini turut dihadiri oleh tim Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, budayawan sekaligus pemerhati Samin, Adi Sutarto, hingga pemerhati budaya Samin yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta.

Melalui konsistensi penyelenggaraan tradisi Gumbregan, masyarakat Sedulur Sikep terbukti mampu menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur mereka—mulai dari gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, hingga pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan hewan.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kearifan lokal ini tetap berdiri kokoh dan relevan sebagai pedoman hidup yang selaras dengan lingkungan.