Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Di tangan Isna Nur Rafidah (26), wajah pertanian kini tak lagi melulu soal hamparan sawah yang luas. Lulusan Politeknik Negeri Jember (Polije) ini sukses membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk menciptakan ekosistem pangan yang produktif dan bernilai ekonomi tinggi.
Melalui unit bisnisnya yang bernama kutanami_id, Isna menyulap lahan terbatas di Jalan Lisman, Desa Campurejo, Bojonegoro, menjadi pusat budidaya sayuran modern sejak Juli 2024.
Berbekal latar belakang pendidikan di jurusan Produksi Tanaman Pangan dan pelatihan intensif, Isna memilih metode hidroponik sebagai solusi bertani di iklim Bojonegoro yang cukup menantang. Dengan metode ini, tanaman tumbuh tanpa media tanah, melainkan mendapatkan asupan mineral langsung dari cairan nutrisi yang terkontrol secara ketat.
“Sayur hidroponik jauh lebih higienis dan sehat karena ditanam tanpa pestisida. Hasil sayurannya pun lebih renyah dan tahan lama,” ujar Isna.
Selain kualitas hasil panen, metode ini menjadi solusi bagi warga perkotaan karena dapat diaplikasikan di pekarangan rumah, atap (rooftop), hingga gang sempit tanpa perlu menyiram tanaman secara manual setiap hari.
Kini, kutanami_id tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi sayur, tetapi telah berkembang menjadi Pusat Edukasi. Isna aktif sebagai content creator untuk mengampanyekan gaya hidup sehat dan membuka pintu kebunnya bagi masyarakat luas.
Beberapa program unggulan yang ditawarkan antara lain:
• Petik Sayur: Pengalaman langsung memanen sayuran segar di lokasi.
• Outing Class: Program belajar untuk siswa sekolah.
• Pelatihan Budidaya: Edukasi teknis bagi pemula yang ingin memulai hidroponik.
Kreativitas Isna membuahkan pengakuan resmi. Ia berhasil meraih penghargaan Petani Milenial Berprestasi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro. Penghargaan ini menjadi bukti nyata kontribusi generasi muda dalam memajukan sektor agribisnis melalui sentuhan teknologi.
Isna berharap kutanami_id dapat membantu menjaga ketahanan pangan lokal serta mengurangi ketergantungan pasokan sayur dari luar kota.
“Kami ingin menciptakan ruang hijau yang produktif di tengah area yang padat, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.






