Pendidikan

Kelompok 39 Tutup KKN PINTAR UNUGIRI 2026, Program Pemberdayaan Jadi Warisan untuk Margomulyo

×

Kelompok 39 Tutup KKN PINTAR UNUGIRI 2026, Program Pemberdayaan Jadi Warisan untuk Margomulyo

Sebarkan artikel ini

Bojonegoro, Liputanbojonegoro.com — Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) PINTAR Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro Tahun 2026 Kelompok 39 di Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, resmi berakhir pada Jumat, (28/08/2026).

Penutupan tersebut menjadi momentum perpisahan mahasiswa KKN Kelompok 39 dengan Pemerintah Desa Margomulyo dan masyarakat setelah menjalankan berbagai program pengabdian selama kurang lebih satu bulan.

Selama berada di Desa Margomulyo, Kelompok 39 melaksanakan sejumlah program yang berfokus pada pengembangan potensi lokal, pendidikan, sosial, keagamaan, serta pemberdayaan masyarakat.

Beberapa di antaranya yakni pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk motif batik Lelaku Sulur Wungu, workshop pengolahan uwi ungu menjadi bolu kukus, kegiatan mengajar TPQ, literasi keuangan, edukasi tabungan haji dan emas, serta berbagai kegiatan sosialisasi kepada pelajar.

Koordinator Desa KKN PINTAR UNUGIRI 2026 Kelompok 39, Adrian Chandra Septiyono menyampaikan bahwa pelaksanaan KKN di Desa Margomulyo memberikan pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar menjalankan program kerja.

“Awalnya kami datang sebagai mahasiswa yang membawa program kerja. Namun selama berada di Margomulyo, kami justru banyak belajar dari masyarakat.

Kami belajar tentang kebersamaan, gotong royong, komunikasi, dan bagaimana sebuah program bisa benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,”ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Margomulyo, tokoh masyarakat, pemuda, pelajar, serta seluruh warga yang telah menerima dan mendukung keberadaan mahasiswa KKN Kelompok 39.

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Desa Margomulyo yang sudah menerima kami dengan sangat baik.

Kalau selama pelaksanaan KKN ada kekurangan, baik dalam perkataan maupun tindakan, kami memohon maaf. Semoga apa yang kami lakukan selama di sini dapat memberikan manfaat dan bisa terus dikembangkan setelah kami kembali,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Margomulyo, Nuryanto, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama menjalankan program KKN. Menurutnya, keberadaan mahasiswa memberikan warna tersendiri bagi kegiatan masyarakat, khususnya melalui berbagai program edukasi dan pemberdayaan.

“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa KKN Kelompok 39 yang selama ini sudah ikut berbaur dengan masyarakat. Program-program yang dilaksanakan juga memberikan manfaat dan pengalaman baru bagi masyarakat. Kami berharap hubungan baik yang sudah terjalin ini tidak berhenti setelah KKN selesai,” ungkap Nuryanto.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama berada di Desa Margomulyo dapat menjadi bekal ketika kembali ke lingkungan kampus maupun ketika nantinya terjun langsung ke masyarakat.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 39, Dr. Shofa Robbani, Lc., M.A., juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program yang telah dilakukan mahasiswa.

“KKN bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi bagaimana mahasiswa mampu hadir, berinteraksi, dan memberikan kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Saya berharap pengalaman selama di Margomulyo menjadi pembelajaran yang berharga bagi mahasiswa untuk ke depannya,” tuturnya.

Salah satu program yang menjadi perhatian Kelompok 39 adalah pengembangan uwi ungu sebagai potensi lokal Desa Margomulyo.

Melalui workshop pengolahan uwi ungu menjadi bolu kukus, mahasiswa mencoba mendorong masyarakat untuk melihat komoditas lokal tidak hanya sebagai bahan pangan mentah, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai tambah.

Selain itu, pencatatan HaKI untuk motif batik Lelaku Sulur Wungu menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mendukung penguatan identitas produk lokal Margomulyo. Motif tersebut terinspirasi dari uwi ungu dan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal melalui produk ekonomi kreatif.

Berbagai kegiatan edukasi juga dilaksanakan selama KKN, mulai dari sosialisasi antibullying, pencegahan HIV/AIDS, hingga pencegahan pergaulan bebas.

Kegiatan tersebut menyasar generasi muda dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mereka mengenai berbagai persoalan sosial yang ada di lingkungan sekitar.

Tak hanya menjalankan program kerja, mahasiswa Kelompok 39 juga turut hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat. Kebersamaan melalui kegiatan sosial, keagamaan, kepemudaan, hingga agenda desa membuat interaksi mahasiswa dan masyarakat semakin erat.

Bagi mahasiswa, penutupan KKN bukan sekadar tanda berakhirnya masa pengabdian. Momen tersebut juga menjadi titik perpisahan dengan masyarakat yang selama ini telah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Salah satu mahasiswa KKN Kelompok 39 mengungkapkan bahwa perpisahan menjadi bagian paling berat setelah melewati berbagai kegiatan bersama.

“Yang paling berat bukan menjalankan programnya, tetapi ketika harus berpamitan.

Selama satu bulan kami sudah terbiasa dengan suasana desa, bertemu warga, berkegiatan bersama, dan akhirnya merasa seperti memiliki keluarga baru di sini. Kami datang sebagai mahasiswa KKN, tetapi pulang membawa banyak cerita dan kenangan,” ungkapnya.

Dengan berakhirnya KKN PINTAR UNUGIRI 2026, mahasiswa Kelompok 39 secara resmi berpamitan dari Desa Margomulyo. Namun, hubungan dan silaturahmi yang telah dibangun diharapkan tetap terjaga.

KKN pun meninggalkan satu pesan bagi mahasiswa: pengabdian bukan tentang seberapa banyak yang diberikan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat ditinggalkan.

Dari Margomulyo, Kelompok 39 belajar, mengabdi, dan tumbuh bersama. Kini waktunya pulang, membawa cerita dan meninggalkan kenangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *