PemerintahanPertanian

Petani Milenial Bojonegoro: Kisah Fatkul Ilma dan P4S Djoyo Tani yang Menginspirasi

liputanbojonegoro637
×

Petani Milenial Bojonegoro: Kisah Fatkul Ilma dan P4S Djoyo Tani yang Menginspirasi

Sebarkan artikel ini
1c377f83 f05a 4da5 a7bb b48d2e8a2561

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Di Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, nama Bojonegoro kembali bersinar berkat prestasi salah satu pemudanya, Fatkul Ilma. Pendiri Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Djoyo Tani ini menerima penghargaan bergengsi dari Menteri Pertanian RI sebagai P4S Berprestasi Kategori Teladan.

Penghargaan ini diserahkan pada 17 Agustus 2025 di Kementerian Pertanian, Jakarta, berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 703/Kpts./KP.590/M/08/2025. Prestasi ini semakin mengukuhkan perjalanan Ilma, yang sebelumnya telah meraih Juara 2 Pemuda Pelopor Nasional (2022) dan Juara 1 Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Jawa Timur di bidang inovasi teknologi.

P4S Djoyo Tani, yang berlokasi di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, dikenal dengan berbagai inovasi modernnya, termasuk penggunaan greenhouse dan pemanfaatan teknologi canggih dalam sektor pertanian.

Fatkul Ilma mengungkapkan visinya untuk P4S Djoyo Tani ke depan. “Kami berencana mencetak petani muda yang andal dan melek teknologi,” ujarnya. “Selain itu, kami ingin P4S menjadi pusat riset pertanian, berkontribusi pada ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan.”

Ilma juga mengajak anak muda untuk tidak ragu menjadi petani. Baginya, bertani kini tidak lagi identik dengan pekerjaan kotor di sawah, melainkan profesi modern yang menjanjikan, didukung oleh teknologi. Ia percaya, petani itu keren dan masa depan pertanian ada di tangan generasi muda.

Ilma berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memberikan perhatian lebih kepada para petani muda, sebagai penentu masa depan pertanian. Ia menekankan pentingnya dukungan berupa fasilitas, ruang berekspresi, dan wadah yang layak bagi petani agar bisa berkarya dan berinovasi.

“Angkat derajat petani dan berikan kelayakan dari segala aspek,” tegas Ilma. “Semoga bertani bisa menjadi pilihan utama, dan kami bisa dilibatkan dalam diskusi untuk memajukan pertanian di Bojonegoro