Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Masyarakat diingatkan untuk tidak menyepelekan gangguan pada indra penciuman. Hidung bukan sekadar indra pembau, melainkan “alarm alami” tubuh yang berfungsi mendeteksi ancaman bahaya di sekitar.
Hal tersebut ditegaskan oleh dr. Netiana, Sp.THT-KL, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan–Bedah Kepala Leher dari RSUD Padangan, dalam talkshow edukasi kesehatan SAPA! Malowopati FM, Jumat (27/2/2026).
Dalam sesi bertajuk “Mencium Bahaya! Saat Hidung Tak Lagi Menjadi Alarm Alami”, ia menyoroti bagaimana hilangnya kemampuan membau (anosmia) dapat meningkatkan risiko fatal.
Menurut dr. Netiana, gangguan penciuman sering dianggap sepele, padahal fungsinya sangat krusial sebagai sistem peringatan dini.
“Hidung adalah alarm alami tubuh. Jika tidak berfungsi, risiko bahaya seperti kebocoran gas atau makanan basi bisa tidak terdeteksi,” ungkapnya.
Beliau menjelaskan bahwa gangguan ini juga berimbas pada indra pengecap, yang secara otomatis akan menurunkan kualitas hidup pengidapnya.
Dalam paparannya, dr. Netiana merinci beberapa pemicu utama gangguan penciuman, di antaranya:
• Infeksi: Infeksi saluran pernapasan atas dan virus (termasuk pasca COVID-19).
• Kelainan Anatomi: Sekat hidung bengkok, adanya sumbatan tumor, atau pembesaran jaringan akibat benturan.
• Faktor Usia & Kebiasaan: Penurunan fungsi saraf pada lansia serta efek buruk merokok jangka panjang.
• Kondisi Permanen: Cedera kepala berat yang merusak saraf atau kelainan bawaan sejak lahir.
Khusus pada anak-anak, dr. Netiana memberikan catatan penting: jika gangguan penciuman hanya terjadi pada satu sisi hidung, orang tua harus mencurigai adanya benda asing yang tersumbat.
Sebagai langkah preventif dan perawatan, dokter spesialis ini membagikan beberapa tips praktis bagi masyarakat:
1. Segera Berobat: Jangan tunda pemeriksaan jika mengalami infeksi saluran napas.
2. Hindari Kebiasaan Mengorek Hidung: Meminimalisir risiko luka dan infeksi tambahan.
3. Cuci Hidung: Melakukan cuci hidung secara rutin sesuai kebutuhan medis.
4. Jaga Kelembapan: Lingkungan ber-AC yang terlalu dingin dapat mengeringkan lendir hidung, sehingga penting untuk menjaga kelembapan saluran napas.
Masyarakat diimbau untuk waspada apabila penciuman tidak kunjung kembali normal meskipun gejala pilek atau flu sudah sembuh. Deteksi dini sangat penting untuk menentukan apakah gangguan tersebut bersifat sementara atau membutuhkan penanganan bedah/medis lebih lanjut.
Melalui edukasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat Bojonegoro dan sekitarnya meningkat, bahwa hidung yang sehat adalah kunci keselamatan dan kesehatan jangka panjang.






