Pemerintahan

Hadapi El Nino, Pemkab Bojonegoro Intensifkan Mitigasi Kemarau Panjang di 93 Desa

liputanbojonegoro637
×

Hadapi El Nino, Pemkab Bojonegoro Intensifkan Mitigasi Kemarau Panjang di 93 Desa

Sebarkan artikel ini
B03A802B 2A3C 479D 870D CDBC8584450E

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bergerak cepat melakukan langkah antisipasi menghadapi ancaman kemarau panjang tahun 2026 yang diprediksi akan berdampak signifikan pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintah Desa yang digelar di Ruang Angling Dharma pada Rabu (22/4/2026), Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, memberikan instruksi khusus kepada jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pendamping desa, dan penggiat desa untuk memperkuat kesiapsiagaan wilayah.

Berdasarkan data klimatologi, fenomena perubahan iklim El Nino diperkirakan akan memicu musim kering yang dimulai pada akhir Mei 2026.

“Kondisi ini harus kita antisipasi bersama. Berdasarkan pemetaan, terdapat sekitar 93 desa yang masuk dalam zona merah potensi kekeringan,” ujar Nurul Azizah dalam arahannya.

Untuk meminimalisir kerugian petani, Pemkab mendorong dua strategi utama Percepatan Masa Tanam: Petani diminta segera memulai penanaman padi pada periode Maret hingga Mei agar masa panen selesai sebelum puncak kemarau tiba. Dan Diversifikasi Tanaman: Masyarakat diarahkan untuk beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan (hardy crops) seperti jagung dan tembakau.

Terkait ketersediaan air bersih, Wabup menegaskan bahwa pola penanganan harus mulai bergeser. Pemerintah tidak lagi ingin hanya mengandalkan distribusi bantuan air (dropping air) yang bersifat sementara.

“Kita butuh solusi jangka panjang berbasis potensi lokal. Pembangunan sumur bor dan optimalisasi sumber air yang sudah ada harus menjadi prioritas agar desa lebih mandiri saat musim kering melanda,” tambahnya.

Selain mitigasi bencana, forum tersebut juga menekankan pentingnya akurasi data dalam penyaluran bantuan sosial serta pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan di tingkat desa.

Melalui sinergi lintas sektor dan perencanaan berbasis data yang matang, Pemkab Bojonegoro optimistis dapat menekan dampak kemarau panjang seminimal mungkin, sekaligus menciptakan desa-desa yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim. (Prokopim)