Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus menunjukkan komitmennya dalam menata dan membangun infrastruktur desa melalui program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD).
Program yang dialokasikan melalui APBD ini menyasar 430 desa di seluruh kabupaten, salah satunya adalah Desa Banjarejo, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro.
Program strategis ini menjadi bukti nyata dari visi Pemkab untuk mewujudkan “Bojonegoro Bahagia, Makmur, Membanggakan” demi mempercepat pembangunan sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah.
Saat dikonfirmasi di Balai Desa Banjarejo pada Selasa (07/07/2026), Kepala Desa Banjarejo, Moch. Sahroni, memaparkan realisasi penggunaan dana BKKD.
Ia menjelaskan bahwa pada tahun ini, Desa Banjarejo menerima kucuran dana sebesar Rp1,6 miliar yang sepenuhnya difokuskan untuk pembangunan infrastruktur jalan desa yang mendasar.
“Dana BKKD tersebut terbagi menjadi dua titik pembangunan dengan konstruksi cor beton. Titik pertama di Dusun Gampeng, Banjar sepanjang 700 meter, dan titik kedua di Dusun Donglo sepanjang 100 meter. Totalnya mencapai 800 meter dengan lebar 4 meter,” jelas Sahroni.
Pembangunan dengan lebar 4 meter ini dinilai sangat krusial. Selain mempermudah akses mobilitas harian warga, jalan yang lebar dan kokoh ini disiapkan agar kendaraan roda empat maupun mesin pemanen (combine harvester) bisa berpapasan dengan lancar.
Selama ini, akses jalan di Donglo dan Banjar kerap dikeluhkan karena rusak parah—becek saat musim hujan dan berdebu saat kemarau.
Selain program jalan cor dari BKKD, Kades Sahroni menyebutkan adanya program lain dari Pemkab Bojonegoro melalui Dinas PU Cipta Karya yang sudah berjalan di desanya, yaitu pengadaan 4 titik Toren Air Bersih yang saat ini telah aktif.
Kendati demikian, menyerap aspirasi langsung dari masyarakat, pihak Pemdes Banjarejo berharap Pemkab dapat memberikan bantuan tambahan, mengingat kebutuhan air bersih di beberapa RT masih sering kurang saat musim kemarau tiba.
Tak hanya itu, Sahroni juga mengusulkan adanya bantuan program Jalan Usaha Tani (JUT) untuk wilayah Dusun Linggo dan Donglo.
“Mayoritas atau sekitar 70% warga Banjarejo adalah petani. Jika ada JUT yang menjangkau area persawahan, biaya angkut pupuk dan gabah tentu bisa ditekan menjadi lebih murah. Ini akan sangat membantu mendongkrak perekonomian warga,” pungkasnya.
Manfaat dari pembangunan infrastruktur ini langsung dirasakan oleh warga setempat. Sumiati, salah seorang warga Desa Banjarejo, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada jajaran pemda.
“Saya mewakili warga Banjarejo matur nuwun sanget (terima kasih sekali) kepada Bapak Bupati Setyo Wahono dan Pemkab Bojonegoro. Dulu kalau panen jalan rusak, sekarang enak. Anak-anak sekolah juga jalannya sudah paving dan tidak becek lagi.
Jalan yang dulunya susah dilewati sekarang mulus dan menyambung ke desa tetangga dengan mudah. Mugi-mugi (semoga) Pemkab terus mengingat desa,” ungkap Sumiati.
Apresiasi serupa datang dari Sumadi, warga lainnya yang memiliki lahan pertanian di ujung desa. Ia mengaku kini mobilitasnya jauh lebih efisien.
“BKKD ini manfaatnya langsung. Sawah saya di ujung, dulu angkut pupuk susah. Sekarang pakai motor pun sudah bisa. Terima kasih Pemkab, semoga tahun depan program ini ada lagi,” ucapnya sembari tersenyum.
Di sisi lain, Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono sebelumnya menegaskan bahwa BKKD merupakan wujud nyata dari pemerataan pembangunan yang dimulai dari tingkat bawah. Ia pun mengingatkan agar para kepala desa mengelola dana stimulus ini dengan penuh tanggung jawab.
“BKKD kita arahkan untuk hal-hal yang dampaknya langsung dirasakan oleh warga, seperti infrastruktur, air bersih, dan penguatan ekonomi.
Jangan digunakan untuk acara yang sifatnya seremonial. Saya meminta seluruh kepala desa untuk transparan dan memastikan program ini tepat sasaran,” tegas Bupati Setyo Wahono.






