Pertanian

Pemkab Bojonegoro Pertemukan Petani dan Ritel Modern Lewat Gutanbo Fest

×

Pemkab Bojonegoro Pertemukan Petani dan Ritel Modern Lewat Gutanbo Fest

Sebarkan artikel ini

Bojonegoro, Liputanbojonegoro.com – Ratusan petani dan kelompok tani di Kabupaten Bojonegoro antusias mengikuti ajang Agribisnis Matching di Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (17/10/2025).

Kegiatan yang menjadi rangkaian Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) ini dirancang sebagai jembatan strategis untuk memotong rantai pasok yang panjang dengan mempertemukan langsung produsen lokal dengan jaringan ritel modern serta perhotelan.

Sejumlah pelaku usaha besar ambil bagian dalam acara ini, di antaranya PT Lion Superindo, PT Indomarco Prismatama, PT Samudra Sukses Mandiri, SPPG, CV Surya Sakti Bojonegoro, hingga sektor perhotelan seperti Eastern Hotel.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan bahwa potensi sektor hulu pertanian di Bojonegoro sudah sangat matang, mulai dari komoditas padi, palawija, hingga hortikultura seperti kelengkeng, alpukat, dan buah tin.

“Hari ini kita pertemukan produsen dengan offtaker dan end user agar dari sisi hilir dan pemasarannya makin terarah,” ujar Zaenal.

Bojonegoro saat ini kian memantapkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur. Berdasarkan data Dinas, daerah ini menduduki peringkat atas untuk sejumlah komoditas strategis:

 Padi: Konsisten di urutan ke-2 se-Jatim dengan estimasi produksi musim kemarau mencapai 822 ribu ton.

 Kedelai & Domba: Menempati peringkat pertama (puncak) se-Jatim untuk komoditas kedelai (7.811 ton) serta populasi ternak domba.

 Tembakau Virginia: Memimpin di urutan pertama se-Jatim dengan total produksi tembakau mencapai 29.575 ton.

 Komoditas Lain: Jagung (337.636 ton), Bawang Merah (urutan ke-5 se-Jatim dengan 38.783 ton), Kacang Hijau (urutan ke-4 se-Jatim dengan 6.979 ton), serta populasi sapi di urutan ke-5 se-Jatim.

Dengan capaian tersebut, Pemkab Bojonegoro berkomitmen mewujudkan wilayahnya sebagai sentra agroindustri yang mandiri, di mana pasokan bahan baku industri tercukupi secara berkesinambungan dan perputaran ekonomi tetap berputar di daerah.

Menjawab kendala klasik petani berupa ketersediaan air saat musim kemarau, Pemkab Bojonegoro melalui DKPP mengambil langkah konkret dengan memprogramkan pembangunan 92 titik sumur bor sebagai solusi irigasi.

Pada kesempatan yang sama, stan produk pertanian ramah lingkungan tanpa pestisida—seperti beras organik, sayuran, dan buah-buahan—turut dipamerkan. Salah satu petani lokal, Supardi, bahkan mengenalkan produk beras berkualitasnya yang telah dipasok sejak 2016 dengan kapasitas hingga 10 ton.

Sementara itu, Buyer Fresh Regional Jatim PT Lion Superindo, Yusuf, menyambut positif kualitas produk lokal Bojonegoro. Pihaknya menyatakan terbuka untuk menjalin kerja sama selama standar kualitas terpenuhi.

“Semua produk pada dasarnya bisa diterima, dengan catatan memenuhi standar kualitas yang aman dari cemaran bahan kimia, keterpenuhan tonase atau kuantitas, serta standar tampilan display,” jelas Yusuf.

Rangkaian kegiatan Agribisnis Matching ini ditutup dengan sesi diskusi produk, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara DKPP dan para buyer terkait optimalisasi pemasaran produk pangan, serta peninjauan langsung ke area display hasil pertanian warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *