PendidikanPeristiwa

Belajar Membatik di Margomulyo, KKN PINTAR UNUGIRI Kelompok 39 Dorong Pelestarian Lelaku Sulur Wungu

liputanbojonegoro637
×

Belajar Membatik di Margomulyo, KKN PINTAR UNUGIRI Kelompok 39 Dorong Pelestarian Lelaku Sulur Wungu

Sebarkan artikel ini
7D7274F9 3CF6 439B 9BF4 268DB7FB72E9

Bojonegoro, Liputanbojonegoro.com  — Kain putih perlahan mulai dipenuhi garis-garis sketsa. Dengan tangan yang harus tetap tenang dan teliti, mahasiswa KKN PINTAR UNUGIRI Kelompok 39 mencoba mengikuti setiap tahapan pembuatan batik secara langsung di pusat produksi batik yang berada di Desa Margomulyo, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (14/8/2026).

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan batik sekaligus menggali potensi kerajinan lokal yang berkembang di Desa Margomulyo.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa didampingi oleh Mas Arif, salah satu pengrajin yang turut memberikan penjelasan mengenai proses membatik.

Tidak hanya melihat proses produksi, mahasiswa juga mendapat kesempatan untuk mencoba membatik secara langsung.

Proses pembelajaran dimulai dari membuat sketsa motif pada kain, kemudian dilanjutkan dengan proses mencanting menggunakan malam (semacam lilin) hingga tahap pewarnaan.

Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi hal baru. Mereka harus belajar menjaga ketepatan garis, mengatur aliran malam, serta memahami bagaimana warna diaplikasikan agar menghasilkan motif yang sesuai dengan rancangan.

“Kalau baru pertama mencoba memang  gampang, tapi ternyata saat praktik cukup membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Dari sini kami jadi lebih memahami bagaimana proses sebuah batik dibuat, bukan hanya melihat hasil akhirnya,” ujar Yhoga Maulana, salah satu anggota KKN PINTAR UNUGIRI Kelompok 39.

Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Kelompok 39 dalam mengenal, mendokumentasikan, serta ikut mendorong pelestarian potensi budaya lokal yang ada di Desa Margomulyo.

Salah satu batik yang menjadi perhatian Kelompok 39 adalah Batik Lelaku Sulur Wungu, sebuah karya batik yang diciptakan oleh Adinda Putri Febri Susanti.

Motif Lelaku Sulur Wungu terinspirasi dari tanaman uwi ungu, yang kemudian dikembangkan menjadi motif batik dengan karakter dan identitas tersendiri.

Motif tersebut tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa unsur lokal yang merepresentasikan kekayaan budaya dan potensi Desa Margomulyo.

Dalam rangka memberikan perlindungan terhadap karya tersebut, proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Batik Lelaku Sulur Wungu telah diselesaikan.

Kunjungan ke pusat produksi batik ini menjadi bagian lanjutan dari upaya Kelompok 39 untuk memahami secara langsung proses, nilai, serta potensi pengembangan batik lokal setelah proses perlindungan karya dilakukan.

Mas Arif menjelaskan kepada mahasiswa bahwa proses membatik membutuhkan ketelitian sejak tahap awal. Sketsa yang dibuat harus dipertimbangkan dengan baik sebelum masuk ke tahap mencanting.

“Mulai dari sketsa itu harus dipikirkan bentuk dan alurnya. Setelah itu baru dicanting. Saat mencanting juga harus hati-hati supaya malamnya tidak melebar atau keluar dari pola,” jelas Mas Arif saat mendampingi mahasiswa.

Menurutnya, proses pewarnaan juga menjadi salah satu tahap yang membutuhkan perhatian karena warna yang digunakan akan menentukan karakter akhir dari kain batik.

Kegiatan praktik tersebut membuat mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga merasakan langsung bagaimana proses menghasilkan sebuah karya batik.

Yhoga menambahkan, pengalaman tersebut memberikan sudut pandang baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya menjaga keberadaan kerajinan lokal.

“Batik ini bukan sekadar kain atau motif. Ada proses, kreativitas, dan cerita yang ada di baliknya. Kami berharap apa yang sudah ada di Margomulyo bisa terus dikembangkan dan dikenal lebih luas,” ungkapnya.

Bagi Kelompok 39 KKN PINTAR UNUGIRI 2026, kunjungan ke pusat produksi batik Kaligede menjadi salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa dalam mengenal sekaligus mendukung potensi lokal masyarakat.

Selain memberikan pengalaman kepada mahasiswa, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk berdiskusi mengenai pengembangan batik lokal, dokumentasi karya, serta pentingnya menjaga identitas motif yang lahir dari lingkungan dan budaya masyarakat setempat.

Dengan telah selesainya proses pendaftaran HaKI Batik Lelaku Sulur Wungu, Kelompok 39 berharap karya tersebut tidak berhenti hanya sebagai sebuah motif batik, tetapi dapat terus dikembangkan dan menjadi salah satu bagian dari identitas serta potensi ekonomi kreatif Desa Margomulyo.

Kunjungan dan praktik membatik di Desa Margomulyo pun menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari hal sederhana: mengenal, belajar, mendokumentasikan, dan ikut menjaga karya lokal agar tetap hidup.

Penulis: Bagas Sandrianto Siregar