Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Ayam Petelur bagi 100 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Gayatri Tahun Anggaran 2025. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (21/11/2025) di Balai Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, ini diikuti oleh peserta dari lima desa, yaitu Panjang, Mlidek, Kesongo, Tondomulo, dan Dayukidul.
Acara ini dihadiri oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Drs. Sukaemi yang mewakili Bupati, perwakilan Kepala Disnakkan Bojonegoro Fajar Trihantoro, narasumber, serta perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat.
Perwakilan Kepala Disnakkan Bojonegoro, Fajar Trihantoro, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada KPM yang telah lolos verifikasi ketat melalui tim dinas dan desa. Ia menjelaskan bahwa penetapan penerima telah diresmikan melalui Surat Keputusan Bupati, dan bagi warga yang belum menerima bantuan di tahap ini, diharapkan dapat memperoleh giliran pada tahap berikutnya.
Fajar menegaskan bahwa Program Gayatri adalah upaya pemerintah dalam meningkatkan pendapatan dan gizi keluarga. Setiap KPM akan menerima satu paket bantuan berupa kandang, ayam petelur, pakan, dan vitamin. Ia berharap bantuan tersebut dapat dirawat dan dikelola secara optimal.
Mewakili Bupati Bojonegoro, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Drs. Sukaemi menyampaikan bahwa Program Gayatri merupakan langkah nyata Pemkab Bojonegoro dalam pengentasan kemiskinan. Ia mengingatkan bahwa hasil budidaya, khususnya telur, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan gizi keluarga atau dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga.
Namun, Sukaemi memberikan peringatan keras: ayam yang diberikan tidak boleh dijual.
“Ayamnya tidak boleh dijual, karena ayam merupakan aset produksi yang menjadi inti dari program ini,” tegas Sukaemi.
Ia secara tegas mengingatkan peserta agar tidak mengulangi kejadian di wilayah lain di mana ayam bantuan baru seminggu diterima namun langsung dijual. Ia menekankan pentingnya menjaga dan memelihara aset produksi ini untuk manfaat jangka panjang.
Sesi inti Bimtek diisi oleh Khoirul Huda, narasumber sekaligus praktisi ayam petelur. Ia memaparkan materi tentang teknik beternak ayam petelur dengan fokus pada efisiensi. Menurutnya, semakin efisien pengelolaan kandang dan pakan, semakin tinggi produktivitas dan semakin rendah biaya produksi.
Beberapa poin kunci yang disampaikan narasumber meliputi:
• Bibit Unggul: Ciri-ciri bibit unggul meliputi tampak sehat dan aktif, bulu halus dan mengkilap, tidak cacat fisik, berumur seragam, dan berat badan sesuai standar. Jenis unggulan yang direkomendasikan antara lain Lohman, Hisex, Isaa, Hyline, dan Novogen.
• Tipe Kandang: Dua tipe kandang umum adalah kandang baterai (lebih efisien untuk pengontrolan pakan dan telur) dan kandang postal (investasi awal lebih rendah).
• Manajemen Kandang: Persyaratan kandang yang ideal meliputi ventilasi udara yang baik, pencahayaan memadai (14-16 jam/hari saat masa produksi), suhu ideal 20^\circ \text{C} hingga 28^\circ \text{C}, dan kelembaban 60 hingga 72 persen. Kebersihan dan sanitasi mutlak dijaga untuk menghindari penyakit.
Khoirul Huda berharap peserta Bimtek mampu menerapkan ilmu yang didapatkan, mulai dari pemilihan bibit hingga manajemen kandang, demi meningkatkan hasil ternak secara optimal.











