Pemerintahan

Inovasi Kelompok GAYATRI Bojonegoro: Barter Telur hingga Jual di TikTok

liputanbojonegoro637
×

Inovasi Kelompok GAYATRI Bojonegoro: Barter Telur hingga Jual di TikTok

Sebarkan artikel ini
DC0A46AD 311C 4E53 B6D9 8D7CA7163090

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) yang diinisiasi di Kabupaten Bojonegoro terus membuahkan hasil positif.

Salah satu keberhasilan nyata ditunjukkan oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Sengon, Kecamatan Ngambon.

Mereka sukses mengonsolidasikan diri ke dalam kelompok ternak yang mandiri dengan menerapkan sistem barter pakan serta digitalisasi pemasaran.

Ketua Kelompok GAYATRI Desa Sengon, Ahmad Fathoni, mengungkapkan bahwa saat ini kelompoknya menaungi kurang lebih 40 KPM.

Kelompok ini memegang peran sentral sebagai jembatan hulu ke hilir, mulai dari penyediaan logistik peternakan hingga penyerapan hasil panen.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh Kelompok GAYATRI Desa Sengon adalah fleksibilitas dalam transaksi logistik.

Kelompok ini menerapkan mekanisme barter antara telur hasil panen dengan pakan ternak untuk menjaga stabilitas perputaran modal peternak kecil.

“Untuk sistemnya mau barter atau kita beli telurnya tergantung, yang penting memudahkan para peternak. Telurnya yang dibarter dengan pakan juga masih ada sisa uangnya,” ujar Ahmad Fathoni.

Perputaran logistik di kelompok ini pun terbilang besar. Dalam sepekan, kelompok mampu menyalurkan hingga 4 ton pakan atau sekitar 80 zak.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan peternak di Desa Sengon, cakupan distribusi pakan kini telah meluas hingga ke penerima manfaat GAYATRI di wilayah Kecamatan Ngambon dan sekitarnya.

Bukan sekadar urusan jual-beli, kelompok ini juga fokus pada aspek keberlanjutan produksi. Pengurus secara berkala melakukan pengecekan langsung ke kandang-kandang milik anggota.

Untuk mengantisipasi penurunan produktivitas ayam akibat faktor eksternal, kelompok menyediakan vitamin serta menggelar penyuluhan kesehatan ternak secara rutin dengan melibatkan tenaga ahli.

“Kita juga melakukan penyuluhan dengan menghadirkan dua dokter (hewan). Dalam pertemuan itu, para peternak dapat menyampaikan permasalahannya terkait kesehatan ternak, misalnya antisipasi saat menghadapi pergantian cuaca yang menyebabkan kondisi ayam drop,” tambah Fathoni.

Di sektor hilir, manajemen pemasaran di kelola secara profesional. Kelompok membeli telur dari KPM dengan harga Rp25.000 per kilogram,

kemudian memasarkannya kembali ke publik dengan harga Rp27.000 per kilogram. Selisih harga tersebut digunakan untuk memutar roda operasional kelompok.

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas di Kabupaten Bojonegoro, Kelompok GAYATRI Desa Sengon mengombinasikan metode penjualan konvensional dan digital.

“Telur bisa diantarkan langsung untuk para ASN Pemkab, kita juga jual melalui TikTok, bisa COD (Cash on Delivery) dan bisa dikirim langsung,” terangnya.

Keberhasilan Kelompok GAYATRI Desa Sengon kini menjadi percontohan ideal (role model) kolaborasi antar-KPM di Bojonegoro.

Melalui integrasi manajemen pakan, pendampingan medis yang kuat, serta perluasan pasar berbasis digital, kelompok ini terbukti mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan.