Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.
Salah satu langkah nyata yang diambil adalah dengan memfasilitasi pemasaran hasil usaha para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tergabung dalam Program GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri).
Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan penjualan telur rutin yang digelar setiap hari Jumat pagi di halaman Kantor Disnakkan Bojonegoro.
Pasar murah yang berlangsung hingga pukul 09.00 WIB ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan telur segar berkualitas langsung dari peternak, sekaligus memperluas jangkauan pasar para KPM.
Selain menyediakan tempat berjualan di area kantor, Disnakkan Bojonegoro juga bergerak aktif menjembatani para KPM dengan berbagai instansi pemerintah dan pelaku usaha lokal guna memperluas jaringan distribusi.
Manfaat dari program fasilitasi ini dirasakan langsung oleh Siti Nur Hayati, salah seorang KPM Program GAYATRI asal Kelurahan Ledok, Kecamatan Bojonegoro. Saat ditemui di sela-sela kegiatan penjualan pada Jumat (3/7/2026), Siti mengungkapkan bahwa pendampingan dari Disnakkan sangat membantu keberlanjutan usahanya.
“Para KPM difasilitasi oleh Disnakkan, salah satunya dengan berjualan telur GAYATRI di halaman Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro. Selain itu juga membantu pemasaran ke dinas-dinas.
Kemarin kami mengirim ke Dinas Kominfo, Dinas Perhubungan, Bagian Umum, Bagian Perekonomian, RSUD, hingga beberapa jasa katering,” ungkap Siti.
Lebih lanjut, Siti menjelaskan bahwa telur hasil budidaya Program GAYATRI ini dijual dengan harga Rp27.000 per kilogram. Kualitasnya pun dinilai unggul dan dapat dibedakan dari fisik produk.
“Harga telur kami tetap Rp27.000 per kilogram dengan kualitas yang tetap dijaga. Bisa dilihat dari warna cangkangnya yang kemerahan. Kalau cangkangnya putih, biasanya harganya sekitar Rp20.500 per kilogram,” tambahnya.
Terkait volume penjualan di halaman kantor Disnakkan, Siti mengaku jumlahnya kini mulai bervariasi antara 30 hingga 60 kilogram per pekan. Angka ini sedikit menurun dibanding awal program yang bisa mencapai 75 kilogram.
Penurunan ini justru menjadi kabar baik karena sebagian besar stok telur kini telah dialihkan langsung untuk memenuhi permintaan rutin dari instansi pemerintah dan pelaku katering yang menjadi mitra baru mereka.
Kendati sisi pemasaran berjalan lancar, Siti tidak menampik adanya tantangan di sektor produksi, terutama terkait biaya operasional. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dapat memberikan dukungan tambahan berupa subsidi pakan ternak.
Menurutnya, intervensi ini sangat dibutuhkan mengingat harga pakan di pasaran terus merangkak naik, sementara para peternak berkomitmen menjaga harga telur tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat luas.












