Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro secara resmi mengoperasikan Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Bojonegoro sebagai langkah konkret menembus status UNESCO Global Geopark (UGGp). Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, di gedung PIG yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman No. 24, Selasa (20/01/2025).
Acara ini dihadiri oleh tokoh penting dunia geologi, Vice President Global Geoparks Network (GGN) Association, Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo. Selain itu, hadir pula jajaran Forkopimda, perwakilan Kementerian ESDM (secara daring), serta jajaran kepala OPD di lingkungan Pemkab Bojonegoro.
Gedung PIG yang memiliki dua lantai dengan luas total sekitar 644 meter persegi ini diproyeksikan menjadi pusat riset, edukasi, dan informasi ilmiah. Gedung ini akan merangkum narasi 31 keragaman geosite yang dimiliki Bojonegoro, mulai dari fenomena “Texas van Java” di Wonocolo hingga api abadi Kayangan Api.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Wahono menekankan bahwa Geopark bukan sekadar urusan pelestarian batuan, melainkan tentang hubungan harmonis antara alam dan manusia.
“Potensi geologi kita luar biasa sebagai penyumbang 25 hingga 30 persen kebutuhan minyak nasional. Namun, kekuatan sesungguhnya untuk diakui dunia adalah ‘cerita’ di baliknya. Bagaimana kekayaan alam ini memberikan kemanfaatan ekonomi dan edukasi bagi masyarakat,” ujar Setyo Wahono.
Bojonegoro saat ini mengandalkan lima Objek Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) utama untuk memperoleh predikat UNESCO, yaitu:
1. Petroleum System Wonocolo (Kecamatan Kedewaan)
2. Struktur Antiklin Kawengan (Kecamatan Kedewaan)
3. Kayangan Api (Kecamatan Ngasem)
4. Kedung Lantung (Kecamatan Sugihwaras)
5. Fosil Gigi Hiu (Kecamatan Temayang)
Vice President GGN, Prof. Ibrahim Komoo, memberikan apresiasi atas peningkatan signifikan kesiapan Bojonegoro sejak kunjungan pertamanya pada 2017. Menurutnya, Wonocolo merupakan ikon unik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia karena memperlihatkan aktivitas tambang minyak tradisional yang dilakukan langsung oleh masyarakat.
“Potensi ini adalah warisan yang luar biasa. Untuk memperoleh predikat UGGp, kita perlu memastikan 100 persen kesiapan. Kami hadir untuk membantu penyempurnaan sebelum penilaian tim UNESCO yang diperkirakan berlangsung 4 hingga 5 bulan ke depan,” terang Prof. Ibrahim.
Selain sebagai objek wisata, pengembangan Geopark Bojonegoro diharapkan menjadi standar baru penelitian ilmiah bagi pelajar dan peneliti internasional. Setyo Wahono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga warisan geologi ini.
“Geopark ini bukan hanya milik Bojonegoro, tapi kebanggaan Indonesia. PIG ini adalah komitmen kita untuk menjadi rujukan geologi internasional sekaligus pengembangan lingkungan yang berkelanjutan,” pungkas Bupati. (Prokopim)








