Liputanbojonegoro.com , Bojonegoro – Nasib apes menimpa Minik (76), warga Dusun Mundu RT 20, Desa Kesongo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro.
Bangunan dapur rumahnya ludes dilahap si jago merah pada Jumat (19/6/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh sisa bara api tungku yang belum sepenuhnya padam.
Kebakaran pertama kali diketahui oleh salah seorang tetangga yang melihat kepulan asap tebal membubung dari arah dapur korban. Menyadari adanya bahaya, warga sekitar langsung berdatangan dan bergotong royong menjinakkan api secara swadaya.
Lantaran api kian membesar, warga mengambil tindakan cepat dengan merobohkan bangunan dapur ke area tanah kosong.
Langkah darurat ini terpaksa dilakukan demi mencegah kobaran api merembet ke bangunan rumah induk maupun pemukiman padat di sekitarnya.
Petugas Dinas Pemadam Kebakaran yang menerima laporan langsung menerjunkan personel ke lokasi. Meski sempat terkendala akses jalan yang sempit dan sulit dilalui, petugas akhirnya berhasil mengendalikan dan memadamkan api secara total pada pukul 07.30 WIB.
Berdasarkan informasi di lapangan, musibah ini bermula saat korban pergi ke sawah untuk mencari rumput. Sebelum berangkat, korban mengaku telah mematikan api di tungkunya.
Namun diduga kuat masih ada sisa bara yang menyala, lalu merembet ke tumpukan jerami di dalam dapur hingga memicu kebakaran besar.
“Api di tungku sudah saya matikan sebelum berangkat ke sawah. Saya tidak tahu kalau ternyata masih menyala,” tutur Minik dengan nada sedih.
Akibat insiden ini, bangunan dapur korban mengalami kerusakan parah dengan kerugian materiil ditaksir mencapai Rp35 juta. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini.
Kepala Desa Kesongo, Kusnadi, membenarkan adanya musibah yang menimpa salah satu warganya tersebut. Ia pun mengapresiasi kesigapan warga dan petugas yang bergerak cepat sehingga api tidak meluas ke rumah utama.
Atas kejadian ini, Kusnadi mengimbau kepada seluruh masyarakat agar lebih waspada dan teliti sebelum meninggalkan rumah, terutama yang masih menggunakan tungku tradisional.
“Kami mengingatkan warga agar memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan rumah, sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegas Kusnadi.









