PemerintahanPeristiwa

Mengatasi Krisis Air di Bojonegoro, Inisiatif Pemkab untuk Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

liputanbojonegoro637
×

Mengatasi Krisis Air di Bojonegoro, Inisiatif Pemkab untuk Sumber Daya Air yang Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
011be535 B1c0 47ae A6ed 8fcbc3e138a5

BOJONEGORO – Kabupaten Bojonegoro terus menghadapi tantangan besar dalam ketersediaan air. Pada tahun 2024, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bojonegoro melaporkan penurunan cadangan air tanah hingga 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam kondisi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkirakan akan ada 106 desa yang akan terdampak kekeringan pada tahun 2025.

Meski menghadapi kesulitan, Bojonegoro memiliki potensi besar dalam pemanfaatan sumber daya air. Terdapat 433 embung dan 45 waduk yang tersebar di berbagai wilayah. Untuk mengatasi krisis ini, Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah meluncurkan program pemetaan dan penyaluran sumber air sungai bawah tanah dan air permukaan. “Kita akan terus mencari sumber-sumber air lain dan melakukan pengeboran,” ungkap Bupati Wahono.

Pemkab Bojonegoro juga berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menciptakan strategi yang lebih efisien dalam penyaluran air.

Dengan bantuan teknologi deteksi air geo magnetotelurik, pemetaan sumber air yang lebih efektif diharapkan bisa dicapai. Hasilnya, enam sumber air potensial di berbagai lokasi, termasuk Desa Banjaran, Desa Ngantru, dan Desa Bakalan, telah ditemukan dan mulai dialirkan ke masyarakat.

Inisiatif ini diharapkan dapat memperbaiki ketersediaan air untuk penggunaan domestik, pertanian, dan industri lokal di Kabupaten Bojonegoro, yang pada akhirnya mendukung kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.