Pemerintahan

Pemkab Bojonegoro Canangkan Desa CANTIK Tahun 2026

liputanbojonegoro637
×

Pemkab Bojonegoro Canangkan Desa CANTIK Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
480F3CBF 6891 41F3 88CD 8B5C15119331

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi mencanangkan program Desa Cinta Statistik (CANTIK) tahun 2026. Acara yang digelar di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro pada Rabu (15/4/2026).

Acara ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan kebijakan berbasis data yang akurat dari tingkat desa.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menegaskan bahwa program ini merupakan pengejawantahan instruksi Bupati Setyo Wahono.

Ia mendorong agar seluruh kecamatan di Bojonegoro memiliki desa unggulan yang mampu menjawab tantangan global, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik dunia saat ini.

“Terima kasih kepada desa-desa yang telah memulai. Sesuai arahan Bapak Bupati, kita ingin setiap kecamatan punya produk unggulan. Saat ini sudah ada tiga desa (tambahan), ke depan 25 kecamatan lainnya harus mengikuti dengan keunggulannya masing-masing,” ujar Nurul Azizah.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, memaparkan bahwa perjalanan Desa CANTIK di Bojonegoro telah dimulai sejak 2021. Hingga 2025, sebanyak 13 desa telah mendapatkan pelatihan intensif.

Pada tahun 2026 ini, tiga desa resmi ditetapkan sebagai Desa CANTIK ke-14, 15, dan 16 dengan karakteristik unik:

1. Desa Rendeng (Kecamatan Malo): Unggul di potensi industri gerabah.

2. Desa Pakuwon (Kecamatan Sumberejo): Unggul dalam pengelolaan sumber daya air bersih.

3. Desa Sonorejo (Kecamatan Padangan): Unggul di sektor pariwisata.

Syawaluddin menekankan bahwa desa adalah produsen data dasar. Menurutnya, kualitas kebijakan di tingkat kabupaten sangat bergantung pada validitas data di tingkat desa agar tidak sekadar menjadi “angka di atas kertas”.

“Desa CANTIK bukanlah beban administrasi, melainkan investasi jangka panjang. Kita harus mengubah narasi dari desa sebagai objek pendataan menjadi desa sebagai subjek pengelola data. Karena warga desalah yang paling memahami kondisi mereka sendiri,” tegasnya.

Peningkatan literasi statistik melalui standarisasi metadata dan integrasi teknologi informasi diharapkan menjadi fondasi bagi kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Acara ditutup dengan penyerahan piagam penghargaan kepada desa terpilih serta para Agen Statistik yang menjadi garda terdepan program ini. Penghargaan diberikan kepada:

• Robert (Agen Statistik Desa Rendeng)

• Ahmad (Agen Statistik Desa Pakuwon)

• Anang (Agen Statistik Desa Sonorejo)

Dengan pencanangan ini, Pemkab Bojonegoro berharap sinergi antara literasi data dan potensi ekonomi desa dapat mempercepat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.