Pemerintahan

Wabup Nurul Azizah: ASN Jangan Terjebak Persepsi Data

liputanbojonegoro637
×

Wabup Nurul Azizah: ASN Jangan Terjebak Persepsi Data

Sebarkan artikel ini
4590F90B E3A3 4B12 AA17 F38121E441EB

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, memberikan penegasan salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) di era modern, yakni kepemimpinan berbasis data.

Penguasaan data dinilai menjadi kunci utama agar program kerja yang dicanangkan pemerintah bisa tepat sasaran demi kesejahteraan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Nurul Azizah saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan III Tahun 2026, pada Selasa (09/06/2026).

Di hadapan para peserta, ia menekankan bahwa tantangan birokrasi saat ini tidak lagi sekadar menjalankan program kerja formalitas, melainkan kemampuan membaca data, menganalisis persoalan secara komprehensif, serta merumuskan kebijakan yang tepat di tengah derasnya arus informasi.

“Sebagai ASN kita harus terbiasa bekerja dengan data. Jangan hanya melihat satu angka lalu menarik kesimpulan. Data harus dibaca secara menyeluruh agar kebijakan yang diambil tepat sasaran,” ujar Nurul Azizah tegas.

Untuk memberikan gambaran nyata, Nurul Azizah mencontohkan polemik yang sempat mencuat pasca-rilis data pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro pada triwulan pertama tahun 2026.

Kala itu, angka pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 0,02 persen memunculkan berbagai penilaian sepihak mengenai keberhasilan maupun kegagalan program pembangunan daerah.

Namun, setelah dilakukan kajian mendalam bersama Badan Pusat Statistik (BPS), ditemukan fakta bahwa angka tersebut sangat dipengaruhi oleh penurunan produksi minyak dan gas bumi (lifting migas)—sektor yang selama ini mendominasi struktur perekonomian Bojonegoro.

Sebaliknya, sejumlah sektor non-migas seperti pertanian, perdagangan, jasa, dan sektor pendukung lainnya justru menunjukkan pertumbuhan yang positif dan menjadi penopang stabilitas ekonomi daerah.

Menurut Nurul, contoh kasus tersebut menunjukkan betapa berbahayanya jika ASN tidak utuh dalam membaca data. “Kalau tidak memahami data secara lengkap, kita mudah terjebak pada persepsi. Padahal tugas ASN adalah menghadirkan fakta dan solusi berdasarkan data yang valid,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wakil Bupati juga menggarisbawahi bahwa seorang pejabat administrator harus mampu mengombinasikan antara ilmu dan seni kepemimpinan.

Jika ilmu diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan, maka seni kepemimpinan diwujudkan melalui kepekaan sosial, kemampuan membangun komunikasi yang solid, serta kemahiran menggerakkan tim kerja.

Terlebih lagi, tantangan birokrasi ke depan diprediksi akan semakin kompleks. Dengan adanya keterbatasan fiskal daerah serta meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik, ASN dituntut untuk melahirkan inovasi, melakukan efisiensi anggaran, dan mengoptimalkan potensi daerah.

Melalui momentum Pelatihan Kepemimpinan Administrator ini, Nurul Azizah berharap dapat lahir para pejabat yang tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga menjadi pemimpin yang adaptif, profesional, serta berani mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.

“Jadilah ASN yang profesional, memiliki visi, komitmen, serta mampu membaca perubahan zaman. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi atau persepsi.

Biasakan bekerja dengan data, karena dari data itulah lahir kebijakan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,” tutupnya.