Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Ratusan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Bojonegoro mengikuti kegiatan pembinaan peningkatan daya saing produk yang digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro di Hotel Eastern, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas para pelaku usaha lokal agar mampu bersaing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga menembus pasar internasional.
Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menjelaskan bahwa pihaknnya telah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan IKM berkelanjutan selama lima tahun.
Setelah fokus pada pembangunan fondasi dan branding di tahun 2025, agenda di tahun 2026 difokuskan pada peningkatan kualitas produk dan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).
“Persaingan saat ini bukan lagi antardaerah, melainkan sudah berhadapan dengan produk luar negeri. Karena itu kualitas, detail produk, inovasi, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar global harus terus ditingkatkan,” ujar Cantika saat membuka acara.
Ia menambahkan, target ekspor produk unggulan Bojonegoro diproyeksikan terealisasi penuh pada 2028. Untuk mencapai target tersebut, Dekranasda telah memulainya melalui pelbagai pendampingan, seperti pelatihan digital marketing via TikTok, partisipasi pada pameran nasional seperti Inacraft, hingga pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) bagi pelaku usaha.
Sebagai bentuk komitmen percepatan, Dekranasda Bojonegoro meresmikan kerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) yang ditandai lewat penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
Cantika menilai, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan masyarakat (hexahelix) ini sangat krusial untuk menyelesaikan berbagai kendala usaha di lapangan.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap para akademisi dan mahasiswa FEB UMM dapat menjadi mitra strategis IKM dalam mencarikan solusi atas kendala bisnis melalui penelitian dan pengabdian masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Dekan I FEB UMM, Sri Wahyuni, mengapresiasi kemitraan tersebut. Pihaknya berkomitmen untuk mengawal proses transformasi IKM Bojonegoro secara bertahap hingga siap secara tata kelola.
“Ketika usaha sudah siap ekspor, tata kelola dan standarisasinya harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar global. Pendampingan ini akan kami lakukan secara berkelanjutan,” ungkap Sri Wahyuni.
Acara pembinaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi dari tim FEB UMM yang membekali para peserta mengenai pengelolaan usaha, strategi peningkatan daya saing, hingga teknis menembus pasar ekspor.










