Pemerintahan

Pasca BWBF 2026, Penjualan Batik Bojonegoro Meningkat

liputanbojonegoro637
×

Pasca BWBF 2026, Penjualan Batik Bojonegoro Meningkat

Sebarkan artikel ini
1698C4CA D07F 4FCB 9411 F28B1B1F8E2B

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Pelaksanaan Bojonegoro Wastra Batik Festival (BWBF) 2026 yang digelar Juni lalu mulai memberikan dampak ekonomi nyata bagi para pelaku usaha batik di Kabupaten Bojonegoro.

Pasca-event tersebut, grafik pembelian dan permintaan terhadap batik khas Bojonegoro mengalami peningkatan signifikan.

Momentum positif ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan bagi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro bersama para perajin untuk memperkuat pengembangan batik sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif daerah.

Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, menyampaikan rasa syukurnya atas tingginya antusiasme masyarakat pasca-event tersebut.

Menurutnya, capaian ini membuktikan bahwa promosi kolektif mampu memberikan dampak nyata terhadap pemasaran produk lokal.

“Alhamdulillah, setelah Bojonegoro Wastra Batik Festival 2026, pembelian dan permintaan batik Bojonegoro meningkat.

Ini menjadi semangat bagi kita semua untuk terus mengembangkan kualitas dan daya saing batik Bojonegoro,” ujar Cantika dalam acara audiensi bersama para pengrajin.

Dalam audiensi tersebut, para perajin saling berbagi pengalaman, mulai dari perluasan jaringan pemasaran, respons positif konsumen terhadap motif khas Bojonegoro, hingga kendala teknis yang dihadapi dalam proses produksi.

Selain itu, pertemuan juga membahas rencana pengembangan motif-motif baru yang tetap mengangkat kekayaan budaya lokal.

Cantika menegaskan, kemajuan industri batik lokal membutuhkan kolaborasi yang kuat antara perajin, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya agar batik Bojonegoro semakin dikenal di kancah nasional maupun internasional.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengrajin Batik Bojonegoro (APBB), Lukdianto, berharap sinergi dengan Pemkab Bojonegoro dapat melahirkan motif batik yang memiliki karakter kuat dan berdaya saing tinggi.

“Kami berharap ke depan dapat terus berkolaborasi untuk menemukan ciri khas motif batik Bojonegoro yang solid dan berkarakter,” tutur Lukdianto.

Guna memperluas akses pasar, APBB mengusulkan pengadaan galeri batik di lokasi strategis sebagai pusat promosi dan pemasaran karya perajin. Selain itu, pihak asosiasi menekankan pentingnya keberlanjutan kebijakan pemerintah daerah.

“Keberlanjutan kebijakan akan memberikan kepastian bagi para pelaku usaha batik untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas produk, serta memperkuat eksistensi batik Bojonegoro,” pungkasnya.