Pemerintahan

DKPP Bojonegoro Luncurkan B’FOS, Inovasi Tani di Arena CFD

liputanbojonegoro637
×

DKPP Bojonegoro Luncurkan B’FOS, Inovasi Tani di Arena CFD

Sebarkan artikel ini
74ACFCCA 8B23 42BE AD78 BA408F840C71

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro melakukan langkah jemput bola dalam memasarkan hasil bumi lokal melalui inovasi bertajuk B’FOS (Bojonegoro Farm on the Street).

Kegiatan yang digelar di sela-sela Car Free Day (CFD) seputaran Alun-Alun Kota pada Minggu (19/04/2026) ini menjadi magnet baru bagi warga yang berolahraga.

B’FOS bukan sekadar pasar kaget biasa. Program ini dirancang sebagai ajang strategis untuk mempromosikan potensi pertanian, sekaligus menjadi ruang edukasi langsung bagi masyarakat urban mengenai kualitas pangan lokal.

Kegiatan ini lahir dari sinergi kuat antara berbagai unsur pertanian di Bojonegoro, mulai dari para penyuluh, Kelompok Tani (Poktan), hingga Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Melalui B’FOS, beragam komoditas dipamerkan dan dijual secara langsung, meliputi Bahan pangan segar hasil panen petani, Aneka produk olahan UMKM pertanian, dan Produk pertanian non-pangan.

Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengungkapkan bahwa B’FOS hadir untuk memangkas rantai pasok yang selama ini sering kali merugikan petani.

“Kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal Bojonegoro punya kualitas yang ‘Jos Membanggakan’. Dengan menghadirkan pertanian ke jalanan, petani bisa mendapatkan harga yang lebih layak karena langsung ke tangan konsumen, sementara warga mendapatkan produk yang jauh lebih segar,” ujar Zaenal.

Selain aspek ekonomi, DKPP juga memanfaatkan momentum ini sebagai sarana sosialisasi teknologi pertanian terbaru. Salah satu yang diperkenalkan adalah pengembangan Padi Gamagora yang dikombinasikan dengan perlakuan mikroorganisme Bacillus sp. serta sistem tanam Jajar Legowo yang terbukti mampu mendongkrak produktivitas lahan.

Zaenal menekankan bahwa B’FOS adalah “laboratorium hidup” bagi SDM pertanian Bojonegoro. Di sini, para petani dan penyuluh ditantang untuk lebih inovatif dalam pengemasan dan strategi pemasaran agar mampu bersaing di pasar modern.

“Jika SDM-nya kuat dan kolaborasinya solid, maka kemandirian pangan Bojonegoro akan tetap terjaga dengan kokoh,” tambahnya.

Diharapkan, B’FOS akan menjadi agenda rutin yang tidak hanya mendongkrak ekonomi kerakyatan, tetapi juga mempertegas posisi Bojonegoro sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur.