Peristiwa

KKN Kelompok 20 Unigoro dan KPH Padangan Rawat Kesenian Gembrung Desa Meduri

liputanbojonegoro637
×

KKN Kelompok 20 Unigoro dan KPH Padangan Rawat Kesenian Gembrung Desa Meduri

Sebarkan artikel ini
827C4B6E 2FA8 484C AA3B 9DEC59F81476

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Dalam upaya menjaga keberlangsung warisan budaya lokal, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Kelompok 20 bersama Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Padangan menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Nglaras” (Nguri-nguri lan Regenerasi Seni Gembrung) pada Kamis (23/7/2026).

Kegiatan yang berpusat di Sanggar Gembrung ”Wahyu Iromo”, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro ini melibatkan siswa-siswi dari SD Meduri 3.

Edukasi ini digagas untuk mengenalkan kesenian tradisional Gembrung sejak dini sekaligus menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap kearifan lokal.

Rangkaian acara dimulai sejak sehari sebelumnya (22/7/2026), di mana mahasiswa KKN-TK memberikan pembekalan materi dasar mengenai sejarah, fungsi, dan nilai-nilai kearifan lokal dalam kesenian Gembrung di ruang kelas.

Pada hari pelaksanaan, para siswa dijemput untuk belajar dan berinteraksi secara langsung dengan para pelaku seni di sanggar.

Di lokasi, pengurus sanggar tak hanya mengenalkan berbagai alat musik Gembrung dan teknik memainkannya, tetapi juga mengajak para siswa untuk menjajal secara langsung alat-alat musik tersebut.

Suasana belajar berlangsung interaktif, ceria, dan penuh semangat dengan pendampingan intensif dari mahasiswa KKN-TK.

Ketua Sanggar Gembrung ”Wahyu Iromo”, Pak Romli, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif kolaboratif ini. Menurutnya, kesenian Gembrung memiliki nilai kebersamaan dan filosofi mendalam yang sangat penting untuk diwariskan.

“Kesenian Gembrung bukan hanya sekadar hiburan, melainkan mengandung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang penting dikenalkan kepada generasi muda.

Melalui praktek langsung di sanggar, pengalaman belajar anak-anak menjadi lebih menarik dan bermakna,” ujar Pak Romli.

Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan dapat terus berlanjut melalui kolaborasi erat antara pihak sanggar, perguruan tinggi, sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat luas.

Melalui program “Nglaras” ini, generasi muda di Desa Meduri diharapkan dapat meneruskan estafet pelestarian seni tradisional Gembrung, sehingga identitas dan kebanggaan budaya lokal Bojonegoro tersebut tidak tergerus oleh perkembangan zaman.