Liputanbojonegoro.com,Bojonegoro – Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menghadiri sekaligus menyaksikan prosesi pelantikan 150 anggota dan pengurus Majelis Pengurus Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Bojonegoro Periode 2026–2031.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Angling Dharmo, Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, baru-baru ini.
Acara pengukuhan kepengurusan baru ini juga dihadiri dan disaksikan langsung oleh Ketua ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur, Dr. Pitono Nugroho.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Wahono menyampaikan apresiasi mendalam atas terbentuknya kepengurusan baru yang dinilai diisi oleh para akademisi dan praktisi berkapasitas tinggi.
Ia mengakui, memimpin sebuah wadah yang dipenuhi oleh banyak figur intelektual memiliki seni dan tantangan tersendiri.
“Tentu tidak mudah mengumpulkan orang pintar sebegini banyak. Semuanya punya potensi dan kapasitas sehingga membutuhkan leadership yang kuat. Sangat berbeda dengan jadi bupati,” ujar Setyo Wahono yang langsung disambut senyum hangat oleh para anggota ICMI yang hadir.
Lebih lanjut, Setyo Wahono menegaskan bahwa dalam memimpin Kabupaten Bojonegoro, dirinya berkomitmen untuk menerapkan pendekatan sebagai fasilitator.
Ia memilih mengutamakan ruang komunikasi yang sehat, objektif, dan produktif, alih-alih menggunakan pendekatan kekuasaan.
Dalam menjalankan kepemimpinan tersebut, ia mengaku berpegang teguh pada prinsip ‘ojo dumeh’ (jangan mentang-mentang) serta filosofi Jawa ‘mikul dhuwur mendhem jero’.
“Artinya, kita menghargai seseorang berdasarkan kapasitas, kemampuan, dan nilai positifnya. Sedangkan kekurangannya kita simpan, kita pendam, dan kita kubur demi keharmonisan dan kemajuan bersama,” jelasnya secara filosofis.
Bupati menaruh harapan besar agar 150 pengurus ICMI yang baru dilantik mampu memberikan sumbangsih pemikiran konkret yang berbasis pada data empiris, riset, serta kajian ilmiah untuk mendukung jalannya pembangunan daerah.
Guna mewujudkan hal tersebut, ia mengusulkan pembentukan ruang kolaborasi berkala yang dinamis antara pemerintah daerah dan para akademisi melalui konsep belajar bersama.
“Saya usul kalau bisa kita buat konsep belajar bareng atau ‘sinau bareng’. Apapun rekomendasi dari hasil sinau bareng itu akan menjadi rujukan kami selaku bupati dalam menjalankan regulasi dan mengambil kebijakan,” pungkasnya.
Melalui momentum ini, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap kehadiran ICMI periode ini dapat tampil sebagai mitra strategis yang tangguh dalam melahirkan inovasi baru.
Sinergi yang erat antara birokrasi dan kaum cendekiawan diharapkan mampu mengawal berbagai program pembangunan daerah agar berjalan lebih terarah, efektif, serta berdampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat Bojonegoro.







