Bojonegoro, Liputanbojonegoro.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus mematangkan rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS).
Proyek infrastruktur strategis ini ditargetkan memasuki tahap pengadaan serta pembebasan lahan pada 2027, sebelum pengerjaan fisik/konstruksi dimulai secara resmi pada 2028.
JLS dirancang untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas di kawasan perkotaan yang diakibatkan oleh kendaraan bertonase berat.
Selain memecah kemacetan, jalur baru ini diharapkan mampu menstimulasi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (DPU BM PR) Kabupaten Bojonegoro, Biyanto, menjelaskan bahwa jalur JLS akan melintasi empat kecamatan, yakni Balen, Sukosewu, Kapas, dan Dander, dengan estimasi 16 desa terdampak.
“Untuk daftar lengkapnya masih dalam proses sosialisasi,” ujar Biyanto, Senin (28/9/2026).
Berdasarkan hasil analisis penetapan rute (trase), lokasi flyover sisi barat menempatkan Desa Ngablak sebagai opsi terbaik.
Sementara untuk flyover sisi timur direncanakan berada di wilayah Desa Kabunan, Kecamatan Balen, yang mencakup sebagian area Desa Sobontoro.
Rangkaian persiapan proyek ini telah berjalan sejak tahun lalu. Setelah studi kelayakan (feasibility study) rampung pada 2025, Pemkab Bojonegoro pada 2026 memfokuskan agenda pada penyusunan Detailed Engineering Design (DED), dokumen pengadaan tanah, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), serta Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin).
Saat ini, penyusunan Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT) juga mulai berjalan seiring sosialisasi intensif ke desa-desa yang dilintasi trase JLS.






