Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Lantunan sholawat bergema di Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilul Muttaqin, Desa Margoagung, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro pada Sabtu malam (27/12/2025). Acara bertajuk “Sabilul Muttaqin Bersholawat” ini digelar dalam rangka memperingati Haul ke-37 Kyai Moh. Toha & Masyayikh Ponpes Sabilul Muttaqin.
Kehadiran tokoh besar seperti KH. Agus Salim dan Ust. Ridwan Asyfi bersama grup Fatihah Indonesia tidak hanya menarik ribuan jamaah meski cuaca sempat diwarnai gerimis tipis, semangat para jamaah tidak surut, dan hal ini justru membawa “barokah” tersendiri bagi para pelaku UMKM serta pedagang kecil di sekitar lokasi serta pedagang asongan.
Sepanjang jalan menuju lokasi pesantren dipenuhi oleh deretan pedagang yang menjajakan berbagai macam produk. Mulai dari kuliner seperti es segar, tahu petis, jagung bakar, hingga sosis bakar, semuanya tampak ramai diserbu pengunjung yang datang dari berbagai pelosok Bojonegoro.
Salah satu penjual kuliner eko asal Sumberrejo mengaku sangat bersyukur dengan adanya acara besar ini. “Alhamdulillah, antusiasme jamaah luar biasa. Dagangan saya seperti tahu petis dan minuman es jauh lebih cepat habis dibanding hari biasanya. Acara haul ini benar-benar membawa rezeki bagi kami warga lokal,” ujarnya.
Keberkahan acara ini tidak hanya dirasakan oleh warga sekitar Sumberrejo. Para pedagang dari luar daerah pun turut mengadu nasib di lokasi acara. Salah satunya adalah penyedia jasa mewarnai dan penjual mainan asal Balen Siti.
Ia mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan berjualan di tengah kerumunan jamaah yang membawa keluarga.
“Saya sengaja datang dari Balen karena tahu acara di Sabilul Muttaqin selalu ramai. Selain mencari berkah sholawat, alhamdulillah jasa mewarnai anak-anak dan jualan mainan saya laku keras. Terima kasih kepada pihak panitia yang sudah memberikan ruang bagi kami untuk mencari nafkah,” ungkapnya.
Acara Haul ke-37 ini membuktikan bahwa kegiatan keagamaan memiliki dampak ganda. Selain sebagai sarana syiar Islam dan penghormatan kepada para leluhur pesantren (Masyayikh), kegiatan ini juga menjadi penggerak roda ekonomi kerakyatan di wilayah Bojonegoro.
Hingga acara berakhir dengan doa bersama, suasana tetap tertib dan khidmat, meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah serta senyum sumringah bagi para pedagang yang pulang dengan dagangan yang ludes terjual.






