Peristiwa

Sedekah Bumi Bojonegoro: Warga Rawat Tradisi Unik Raden Ki Jengger

liputanbojonegoro637
×

Sedekah Bumi Bojonegoro: Warga Rawat Tradisi Unik Raden Ki Jengger

Sebarkan artikel ini
27FC987D 6DA5 4E54 A3FD C2623B5160D2

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Nuansa kebersamaan dan kearifan lokal terasa kental di Desa Panjang, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro.

Warga Dusun Tlawah dan Dusun Sumbadan Desa Panjang , Kecamatan Kedungadem Bojonegoro, kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi atau Nyadran pada Sabtu (06/06/2026).

Ritual ini digelar sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen yang melimpah.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh Kepala Desa Panjang Hari Hartono beserta perangkat desa, Babinsa, Babinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, Linmas, serta seluruh warga setempat yang antusias memadati lokasi.

Prosesi Sedekah Bumi diawali dengan doa bersama untuk para leluhur dan kenduri di Punden Raden Ki Jengger, Dusun Tlawah. Warga dari berbagai generasi, mulai dari anak-anak hingga lansia, tampak khusyuk mengikuti ritual ini.

Kepala Dusun Tlawah, Suyono, mengungkapkan bahwa tradisi ini memiliki aturan adat turun-temurun yang sangat ketat dan wajib dipatuhi oleh warga:

 Penyembelihan Kambing: Diadakan setahun sekali secara khusus di area punden.

 Koki Wajib Laki-laki: Proses memasak hidangan ritual hanya boleh dilakukan oleh laki-laki yang merupakan keturunan langsung dari Raden Ki Jengger.

 Pantangan Mencicipi: Selama proses memasak, makanan sama sekali tidak boleh dicicipi hingga hidangan siap disajikan.

 Bahan Bakar Alami: Kayu bakar yang digunakan wajib diambil dari area sekitar punden.

“Ini adalah wujud syukur kami atas berkah hasil panen yang berlimpah, sekaligus komitmen kami menjaga aturan leluhur,” jelas Suyono.

Pada kesempatan yang sama, Suyono juga menceritakan sejarah singkat asal-usul Dusun Tlawah. Berdasarkan penuturan lisan para tetua, cikal bakal dusun ini berasal dari daerah Sedayu, Gresik.

Adalah Raden Ki Jengger dan istrinya, Nyi Jengger Fatimah, yang memutuskan hijrah ke wilayah pinggiran hutan yang kini menjadi Dusun Tlawah, Desa Panjang, Kedungadem Bojonegoro.

Setelah wafat, beliau dimakamkan di sebuah gumuk (gundukan tanah) yang kini dikenal sebagai Punden Raden Ki Jengger. Anak cucu dan keturunan beliau inilah yang kemudian menetap dan beranak pinak di dusun tersebut hingga sekarang.

Kepala Desa Panjang, Hari Hartono, memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh kepanitiaan dan warga yang kompak menyukseskan acara ini.

Menurutnya, Sedekah Bumi bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan benteng pertahanan budaya di era modern.

“Sejak dulu para leluhur kami sudah mengadakan acara seperti ini, jadi tugas kita adalah nguri-uri (melestarikan) budaya bangsa.

Harapan kami, melalui Sedekah Bumi ini warga tetap guyub rukun, kompak dalam gotong royong, dan menjadi ajang silaturahmi yang kuat antarwarga Dusun Tlawah dan Sumbadan,” tegas Hari Hartono.

Sebagai puncak acara sekaligus hiburan rakyat, panitia menyuguhkan kesenian tradisional Langen Tayub. Pertunjukan seni ini dibawakan oleh grup karawitan New Margo Laras dari Desa Banjargondang, Kecamatan Bluluk, Lamongan, di bawah pimpinan Ratno.

Suasana malam semakin semarak dan meriah berkat penampilan menawan dari empat waranggono (sinden) andalan, yaitu  Nyi Wariati, Nyi Violi,  Nyi Septi, dan Nyi Khusnul

Bagi masyarakat setempat, perayaan Sedekah Bumi tahun 2026 ini sukses menjadi momentum penting untuk menjaga keharmonisan sosial sekaligus memastikan warisan leluhur mereka tetap hidup dan lestari melintasi zaman.