BudayaPemerintahan

Warga Mojopangi Bojonegoro Gelar Tradisi Sedekah Bumi

liputanbojonegoro637
×

Warga Mojopangi Bojonegoro Gelar Tradisi Sedekah Bumi

Sebarkan artikel ini
F5BA67AE 3C13 4B26 B944 868B24CC7189

Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Suasana Dusun Mojopangi, Desa Mojorejo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, tampak berbeda pada Rabu (08/04/2026).

Ratusan warga tumpah ruah merayakan tradisi Sedekah Bumi (Nyadran), sebuah ritual tahunan yang memadukan khidmatnya doa dengan kemeriahan pelestarian budaya.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran Forkopimcam Kedungadem, Kepala Desa Mojorejo Sukisno, perangkat desa, serta tokoh masyarakat setempat.

Rangkaian acara dibuka dengan nuansa religius melalui kirim doa dan tahlil bersama di Masjid Jami’ Dusun Mojopangi. Prosesi ini menjadi momen sakral bagi warga untuk mendoakan para leluhur yang telah babat alas di wilayah tersebut.

Usai prosesi doa, suasana berubah menjadi meriah dengan pementasan kesenian tradisional Langen Tayub dari kelompok New Margo Laras.

Penampilan apik dari para waranggono seperti Nyi Wariati, Nyi Violin, Nyi Khusnul, serta Cak Marjuki sukses memikat perhatian warga dari siang hingga malam hari.

Kepala Desa Mojorejo, Sukisno, dalam sambutannya menekankan bahwa Sedekah Bumi adalah identitas masyarakat Mojorejo yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani.

“Masyarakat Mojorejo mayoritas adalah petani, sehingga Sedekah Bumi menjadi bentuk ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan.

Kami juga ingin agar kesenian tradisional seperti tayub tidak punah dan terus dilestarikan oleh generasi muda,” tegas Sukisno.

Senada dengan hal tersebut, Eni, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa kekompakan warga menjadi kunci suksesnya acara tahunan ini.

Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan simbol kerukunan antarwarga.

Selain sebagai ajang syukur atas hasil panen yang melimpah, kegiatan ini terbukti efektif menjadi perekat silaturahmi.

Tradisi Nyadran di Dusun Mojopangi diharapkan tetap eksis sebagai bagian dari kearifan lokal Bojonegoro yang mampu membentengi budaya asli di tengah arus modernisasi.