Liputanbojonegoro.com, Bojonegoro – Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Padangan secara resmi menggelar kegiatan groundbreaking penjarangan tanaman hutan pola jalur di kawasan Petak 157B RPH Kates, BKPH Kates, Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan yang menandai dimulainya proses penjarangan tegakan ini dihadiri oleh jajaran Perum Perhutani KPH Padangan serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) Universitas Bojonegoro (Unigoro) Kelompok 20 Tahun 2026.
Penjarangan tanaman hutan merupakan bagian penting dari teknik silvikultur yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan tegakan, menjaga kesehatan kawasan hutan, serta mendukung kelestarian ekosistem secara berkelanjutan.
Rangkaian acara diawali dengan sesi registrasi dan briefing teknis terkait tata tertib serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di area hutan.
Usai seremoni groundbreaking, peserta diajak meninjau secara langsung kondisi tegakan di Petak 157B untuk menyaksikan demonstrasi awal proses penjarangan.
Pihak Perhutani menjelaskan bahwa penjarangan dilakukan dengan pengurangan jumlah pohon secara terencana dan terukur. Langkah ini memberi ruang tumbuh yang lebih memadai, penerimaan cahaya matahari yang cukup, serta suplai nutrisi optimal bagi pohon-pohon unggul yang dipertahankan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-TK Unigoro tidak hanya menyaksikan proses teknis, tetapi juga berdiskusi langsung mengenai penerapan prinsip pengelolaan hutan yang memperhatikan tiga pilar utama: ekologis, ekonomi, dan sosial.
Mantri KPH Padangan, Pak Sukur, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran dan partisipasi aktif para mahasiswa selama rangkaian kegiatan berlangsung.
“Kehadiran mahasiswa KKN-TK Unigoro merupakan bentuk dukungan nyata terhadap upaya pengelolaan hutan secara lestari.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi lapangan mengenai praktik silvikultur yang diterapkan oleh Perum Perhutani,” ujar Pak Sukur.
Beliau menambahkan bahwa penjarangan merupakan langkah strategis untuk menciptakan kondisi hutan yang lebih produktif dan sehat dalam jangka panjang.
Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi kehutanan ini, diharapkan kolaborasi lintas sektor—termasuk pemerintah desa dan masyarakat lokal—dapat terus ditingkatkan.
Kolaborasi berkelanjutan ini menjadi kunci dalam menjaga kelestarian kawasan hutan Desa Meduri agar tetap memberi manfaat ekologis dan ekonomi bagi generasi mendatang.











